Hubungan antara dukungan sosial yang diterima dengan kebermaknaan hidup pada ODHA


HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL YANG DITERIMA DENGAN KEBERMAKNAAN HIDUP PADA ODHA (Orang dengan HIV/AIDS)




2016-09-01-12-44-53--1697175857


DISUSUN OLEH      :
ANNISA SALSABILLA PRATIWI          (1610015)
GRITA NOVA                                         (1610039)
HANS HARDIAN                                        (1610041)
NOVIA IRAWATI                                       (1610075)



SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SURABAYA






KATA PENGANTAR


Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat dan karuniaNya kami dapat menyelesaikan Makalahyang berjudul Hubungan antara dukungan sosial yang diterima dengan kebermaknaan hidup pada ODHA  tepat pada waktunya.
Makalah ini dibuat berdasarkan tugas Mata Kuliah HIV AIDS yang di buat sebagai salah satu bentuk penilaian tugas akademik
Adapun tujuan dilaksanakan Pembelajaran HIV AIDS  adalah untuk menambah wawasan, juga meningkatkan Prestasi Mahasiswa, dengan dilaksanakan ini penulis dapat mengembangkan, melaksanakan dan mempraktikkan ilmu yang telah di dapat.
Penulis menyadari bahwa pembuatan Makalah ini masih terdapat kekurangan baik dalam bentuk tulisan, isi, informasi maupun dalam bentuk penyajian. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik serta saran guna mendukung agar laporan yang penulis buat dapat lebih baik lagi di kemudian hari.

Surabaya,22 September  2018

















DAFTAR ISI

Kata pengantar
Daftar Isi

BAB I...... PENDAHULUAN
1.1 .. Latar Belakang.......................................................................... 1
1.2    Rumusan Masalah..................................................................... 2
1.3... Tujuan....................................................................................... 3   


BAB 2...... PEMBAHASAN
2.1... Arti makna hidup bagi ODHA................................................. 4
2.2        Nilai yang membantu ODHA menemukan makna hidup......... 4
2.3        Komponen yang berkaitan dengan makna hidup..................... 5
2.4        Faktor yang mempengaruhi makna hidup................................. 6
2.5        Bentuk dukungan sosial untuk ODHA.................................... 6
2.6        Presentase keberhasilan dukungan sosialbagi ODHA.............. 6
2.7        Solusi perawat untuk pasien ODHA........................................ 7

BAB 3...... PENUTUPAN
3.1  Kesimpulan................................................................................. 8
3.2  Saran........................................................................................... 8

Daftar pustaka
















BAB 1
PENDAHULUAN



1.1  Latar Belakang
Arus globalisasi telah memasuki semua sendi kehidupan di Indonesia. Perubahan-perubahan gaya hidup telah membentuk tipe manusia dengan gaya hidup modern terutama generasi muda kalangan menengah atas. Gaya hidup modern yang berkembang di kota-kota besar telah membawa remaja dan orang-orang dewasa menuju kehidupan yang konsumtif dan memasuki pergaulan bebas (free sex).

Perilaku seks bebas yang semula dianggap tabu dan tidak bermoral, sekarang sudah dianggap biasa dan wajar. Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya perilaku seks bebas dari tahun ke tahun terutama dilakukan oleh para remaja. Ditinjau dari segi kesehatan, perilaku seks bebas dapat menimbulkan berbagai gangguan, diantaranya terjadi kehamilan yang tidak diinginkan, meningkatnya risiko kanker rahim, selain itu juga meningkatnya jumlah penyakit menular seksual seperti sifilis, gonorhoe, hingga HIV/AIDS. Kurangnya informasi tentang perilaku seks yang sehat menimbulkan semakin meningkatnya jumlah risiko terjangkitnya penyakit menular seksual HIV/AIDS
Menurut Joerban (1999), hampir 99% penderita HIV/AIDS mengalami stres berat, Djoerban juga menemukan sejumlah pasien HIV/AIDS yang mengalami depresi berat, dimana pada saat mengetahui dirinya mengidap penyakit AIDS, banyak Odha yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya tertular HIV/AIDS,

sehingga menimbulkan depresi dan kecenderungan bunuh diri pada diri Odha itu sendiri. Prima sebagai koordinator pendampingan Odha di JOY (Jaringan Odha Yogyakarta) dalam seminarnya mengatakan bahwa setelah individu mengetahui dirinya positif mengidap HIV/AIDS, Odha cenderung ingin melakukan bunuh diri karena takut terhadap penyakit yang diderita, mengisolasi diri karena malu. Diperkirakan jumlah Odha yang mengalami hal tersebut adalah sekitar 95 %. Bahkan seorang yang karena kesalahan diagnosis dinyatakan menderita AIDS mengalami stres berat hingga nyaris bunuh diri karena tidak lagi mempunyai harapan untuk hidup (Gatra, 2006).

Tiga juta orang meninggal akibat AIDS dan ada beberapa Odha melakukan bunuh diri karena merasa penyakit yang dideritanya tidak bisa disembuhkan lagi, ditambah dengan perilaku diskriminasi masyarakat terhadap Odha (Kompas, 2006). Diskriminasi dilakukan oleh keluarga, masyarakat, pers, perusahaan, dan rumah sakit. Bentuk diskriminasi dalam keluarga misalnya dikucilkan, ditempatkan dalam ruang atau rumah khusus, diberi makan secara terpisah, bahkan ada yang diborgol dan dijaga satpam. Pengucilan juga terjadi di masyarakat. Sementara pers memuat foto, nama, dan alamat tanpa ijin. Diskriminasi yang dilakukan perusahaan misalnya pemutusan hubungan kerja, mutasi, atau pelanggara kerja ke luar negeri. Bentuk deskriminasi rumah sakit dan tenaga medis berupa penolakkan untuk merawat,

mengoperasi, atau menolong persalinan, diskriminasi dalam pemberian perawatan serta penolakkan untuk memandikan jenazah (Kompas, 2006).






















1.2 Rumusan Masalah

1.      Apakah arti makna hidup bagi ODHA?
2.      Nilai nilai yang memungkinkan ODHA menemukan makna hidup?
3.      Apa sajakah komponen yang diukur berkaitan dengan makna hidup?
4.      Apa sajakah faktor yang mempengaruhi kebermaknaan hidup?
5.      Apa sajakah bentuk dukungan sosial untuk ODHA?
6.      Seberapa persen kah keberhasilan Dukungan Sosial bagi orang ODHA?
7.      Apa sajakah solusi perawat untuk pasien ODHA?



1.3 Tujuan

1.      Mengetahui makna hidup dari seorang ODHA
2.      Mengetahui nilai-nilai yang membantu ODHA menemukan makna hidup
3.      Mengetahui komponen yang diukur berkaitan dengan makna hidup
4.      Mengetahui faktor yang mempengaruhi kebermaknaan hidup ODHA
5.      Mengetahui macam-macam bentuk dukungan sosial untuk ODHA
6.      Mengetahui besar keberhasilan dukungan sosialbagi ODHA
7.      Mengetahui peran sebagai perawat untuk pasien ODHA













BAB 2
PEMBAHASAN


2.1 Makna Hidup ODHA
orang yang menghayati hidup bermakna ketika berada dalam situasi yang tidak menyenangkan atau mengalami penderitaan maka akan menghadapi dengan sikap tabah serta sadar bahwa senantiasa ada hikmah yang “tersembunyi” di balik penderitaan. Tindak bunuh diri sebagai jalan keluar dari penderitaan tidak pernah terlintas. Pendapat ini menyiratkan bahwa orang yang menghayati hidup bermakna akan selalu memiliki harapan atau optimisme. optimisme pada individu akan memancarkan harapan, yang berarti memiliki keyakinan yang kuat bahwa segala hal dalam kehidupan ini akan dapat dilalui, dengan kata lain optimisme merupakan faktor dalam meningkatkan motivasi untuk dapat bertahan hidup. optimisme dapat mempengaruhi kesehatan. Orang yang memiliki optimisme ketika sakit akan lebih cepat sembuh. Selain itu, orang yang optimis juga memiliki coping yang efektif dan dapat menemukan aspek-aspek yang positif dari situasi yang penuh tekanan. Berdasarkan hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa Odha yang memiliki penghayatan hidup yang bermakna akan memiliki optimisme dan memiliki coping yang efektif dalam menghadapi tekanan-tekanan sehingga kondisi ini akan dapat membantu Odha untuk tetap menjaga kesehatannya

2.2 Nilai Yang Memungkinkan Seseorang Menemukan Makna Hidup
Menurut Viktor Frankl (dalam Bastaman, 2007) terdapat tiga bidang kegiatan yang secara potensial mengandung nila-nilai yang memungkinkan seseorang menemukan makna hidup yaitu
a.       nilai-nilai kreatif (creative values)
yaitu kegiatan berkarya, bekerja, menciptakan serta melaksanakan tugas dan kewajiban sebaik-baiknya dengan penuh tanggungjawab. Melalui karya dan kerja akan dapat menemukan arti hidup dan menghayati kehidupan secara bermakna
b.      nilai-nilai penghayatan (experiental values)
yaitu keyakinan dan penghayatan akan nilai-nilai kebenaran, kebajikan, keindahan, keimanan dan keagamaan serta cinta kasih. Tidak sedikit orang yang menemukan arti hidup dari agama yang diyakininya atau ada orang yang menghabiskan waktunya untuk menekuni suatu cabang seni. Cinta kasih dapat menjadikan pula seseorang menghayati perasaan berarti dalam hidupnya
c.        nilai-nilai bersikap (attitudinal values)
yaitu menerima dengan penuh ketabahan kesabaran dan keberanian segala bentuk penderitaan yang tidak mungkin dielakkan lagi, seperti sakit yang tidak disembuhkan, kematian dan menjelang kematian, setelah segala upaya dan iktiar dilakukan secara maksimal. Sikap menerima dengan penuh ikhlas dan tabah hal-hal tragis yang tak mungkin dielakkan lagi dapat mengubah pandangan dari yang semula diwarnai penderitaan semata-mata menjadi pandangan yang mampu melihat makna dan hikmah dari penderitaan.
d.      Nilai Harapan (hopeful values).
 Pengharapan mengandung makna hidup karena adanya keyakinan akan terjadinya perubahan yang lebih baik, ketabahan menghadapi keadaan buruk saat ini dan sikap optimis menyongsong masa depan. Berdasarkan hal ini maka sangat mungkin bahwa Odha akan dapat menemukan makna hidup dari penderitaan yang dialaminya.

2.3 Komponen Makna Hidup
Adapun komponen yang diukur berkaitan dengan makna hidup tersebut antara lain

a.       makna hidup yaitu suatu yang dipandang penting dan berharga oleh seseorang, memberi nilai khusus serta dapat dijadikan tujuan hidupnya. Misalnya seorang penjahat yang insaf bertekad akan mengisi sisa hidupnya dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi hidupnya.
b.      kepuasan hidup yaitu penilaian seseorang terhadap hidupnya, sejauh mana ia bisa menikmati dan merasakan kepuasan dalam hidup dan aktivitas-aktivitas yang dijalaninya.
c.       Kebebasan berkehendak yaitu perasaan mampu mengendalikan kebebasan hidupnya secara bertanggung jawab yang didasarkan pada nilai-nilai kebenaran.
d.      sikap terhadap kematian yaitubagaimana seseorang berpandangan dan kesiapannya menghadapi kematian. Orang yang mempunyai kebermaknaan hidup akan membekali dirinya dengan berbuat kebaikan sehingga dalam memandang kematian akan merasa siap untuk menghadapinya.
e.       pikiran tentang bunuh diri yaitu bagaimana pemikiran seseorang tentang masalah bunuh diri. Bagi orang yang mempunyai makna hidup akan berusaha menghindari keinginan untuk melakukan bunuh diri ataubahkan tidak pernah memikirkannya
f.       kepantasan hidup yaitu pandangan seseorang tentang hidupnya, apakah ia merasa bahwa sesuatu yang dialaminya pantas atau tidak

2.4 faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebermaknaan Hidup
Dibawah ini merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi kebermaknaan hidup antara lain :
a.       Faktor internal berupa penemuan pribadi, bertindak positif, pengakraban lingkungan, pendalaman tri nilai, ibadah, dan kualitas insani dan
b.      faktor eksternal berupa material, dukungan sosial, pekerjaan, dan orang-orang terdekat.


2.5 Dukungan Sosial dan Macam- Macam Dukungan Sosial
Dukungan  Sosial dapat berasal dari berbagai sumber antara lain, keluarga, pasangan (suami, isteri, atau pacar), teman atau sahabat, konselor, dan dokter atau paramedis (Meywrowitz, 1980). House (Winnusbst dkk; sarafino dalam Smet, 1994) membedakan empat jenis atau dimensi dukungan sosial yaitu
a.       dukungan emosional yaitu mencakup ungkapan empati, kepedulian dan perhatian terhadap orang yang bersangkutan (misal umpan balik, penegas),
b.      dukungan informatif yaitu mencakup pemberian nasehat, petunjuk-petunjuk, saran-saran atau umpan balik,

c.       dukungan instrumental yaitu penyediaan sarana dan mempermudah tujuan yang ingin dicapai dalam bentuk materi, pemberian kesempatan dan peluang waktu,
d.      dukungan penghargaan atau penilaian positif yaitu berupa ungkapan hormat (penghargaan) positif untuk orang itu, dorongan maju, pemberian penghargaan atas usaha yang telah dilakukan, memberikan umpan balik mengenai hasil atau prestasi.


2.6 Presentase Keberhasilan Dukungan Sosial Untuk Makna Hidup Pasien ODHA
Hasil analisis data menunjukkan bahwa variabel dukungan sosial memberikan sumbangan
terhadap variabel kebermaknaan hidup sebesar 78,2 %. Analisis tersebut menunjukkan bahwa dukungan sosial dapat memberikan pemahaman dan kesadaran tentang kebermaknaan hidup Odha. dukungan sosial berfungsi untuk meningkatkan harga diri, mengurangi stres, dan memberikan rasa aman pada seseorang, sehingga dapat dikatakan bahwa dukungan sosial mempunyai pengaruh positif terhadap kesehatan mental, memberikan perasaan bermakna ketika seseorang sedang mengalami stres. Walaupun tidak semua Odha bisa merasakan adanya pengaruh yang maksimal dari dukungan sosial, tetapi dalam taraf minimal bisa merasakan adanya dukungan positif dari orang lain pada saat mengalami tekanan.
Selain dukungan sosial, masih terdapat variabel-variabel lain yang mempengaruhi kebermaknaan hidup pada Odha yaitu sebesar 21,8 %., faktor lain yang dapat mempengaruhi kebermaknaan hidup antara lain: kualitas-kualitas insani (kepribadian), tingkat religiusitas atau hubungan transendental dengan Tuhan yaitu bagaimana pemahaman seseorang terhadap ajaran keTuhanan berdasarkan keyakinannya untuk dijadikan petunjuk dan pegangan dalam hidupnya. faktor yang mempengaruhi kebermaknaan hidup adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal antara lain: penemuan pribadi, bertindak positif, pengakraban ligkungan, pendalaman tri nilai, dan ibadah. Sedangkan faktor eksternal antara lain: material, pekerjaan, dan orang-orang terdekat Odha seperti pasangan, orang tua, anak-anak, serta sahabat Odha. Untuk dapat membuktikan faktor-faktor tersebut secara lebih akurat, tentunya masih diperlukan penelitian-penelitian lebih lanjut.


2.7  Peran Perawat untuk Pasien ODHA
a. konseling kepada pasien
b. pengendalian stress
c. menggali sisi positif pasien
d. memotivasi pasien untuk semangat melawan penyakitnya
e. selalu memberi dukungan agar pasien merasa dirinya tidak dikucilkan









BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Ada hubungan positif antara dukungan sosial yang diterima dengan kebermaknaan hidup pada Odha. Berarti bahwa pemberian dukungan sosial kepada Odha memberikan pengaruh pada makna hidup. Berdasarkan kategorisasi dapat diketahui bahwa dukungan sosial yang diterima Odha masih dalam taraf sedang, demikian juga untuk makna hidup masih berada dalam taraf sedang. Selain itu, variabel dukungan sosial memberikan sumbangan terhadap variabel kebermaknaan hidup sebesar 78,2 % dan sisanya sebesar 21,8 % dipengaruhi faktor-faktor yang lain.

3.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian maka peneliti memberikan saran sebagai berikut:
1.      Saran bagi Odha dan pihak yang terkait

Odha hendaknya secara aktif mencari dukungan sosial. Demikian juga pihak LSM dan pihak-pihak lain yang terkait yang perhatian terhadap kesejahteraan Odha hendaknya lebih ditingkatkan lagi pemberian dukungan sosial kepada Odha, baik dukungan yang berupa dukungan emosional, dukungan informatif, dukungan instrumental maupun
dukungan penilaian/penghargaan . Karena dukungan sosial memberikan sumbangan cukup besar terhadap variabel kebermaknaan hidup. Selain itu, dukungan sosial dan kebermaknaan hidup juga masih berada dalam taraf sedang sehingga masih perlu ditingkatkan.

2.      Saran bagi penelitian selanjutnya

Peneliti selanjutnya dapat meneliti variabel-variabel lainnya yang sekiranya berpengaruh pada kebermaknaan hidup antara lain penemuan pribadi, bertindak positif, pengakraban ligkungan, pendalaman tri nilai, dan ibadah










Daftar Pustaka


Bastaman, H.D. 2008. Logoterapi : Psikologi
untuk Menemukan Makna Hidup dan
Meraih Hidup Bermakna. Jakarta : PT
RajaGrafindo Persada.

Kedaulatan  Rakyat.  2008.  Hindari   Penyakitnya
Bukan    Orangnya.     Yogyakarta      :      PT.
Kedaulatan Rakyat.


Komentar