Spiritual dalam Konseling HIV/AIDS dan Voluntary Counseling Test (VCT)


BAB I
PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang
HIV/AIDS adalah penyakit (medical illiness) yang memerlukan pendekatan dari segi bio-psiko-sosio-spiritual, dan bukan dari segi klinis semata. Penderita AIDS akan mengalami krisis afektif pada dirinya, pada keluarganya, pada orang yang dicintainya dan pada masyarakat. Krisis tersebut adalah dalam bentuk kepanikan, ketakutan, kecemasan, serba ketidakpastian, keputusasaan, dan stigma. Perlakuan terhadap penderita AIDS seringkali bersifat deskriptif, dan resiko bunuh diri pada penderita cukup tinggi. Bahkan sering kali mereka meminta tindakan eutanasia. Hal ini senada dengan hasil pengakajian yang dilakukan oleh Bagian Psikiatri Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo Jakarta, yang menngungkapkan bahwa umumnya pasien dengan HIV/AIDS mempunyai risiko tinggi untuk bunuh diri. Diperkirakan, sepertiga pasien HIV/AIDS pernah mempertimbangkan untuk meminta bantuan tenaga medis mengakhiri hidupnya. (Lesmana, 2008)

Dalam menangani kasus AIDS ini diperlukan pendekatan biopsikososiospiritual; artinya melihat pasien tidak semata-mata dari segi organobiologik, psikologik/kejiwaan, psiko-sosial tetapi juga aspek spritual/kerohanian. Pasien tidaklah dipandang sebagai individu seorang diri, melainkan seseorang anggota dari sebuah keluarga, masyarakat dan lingkungan sosialnya. Juga sebagai orang yang dalam keadaan tidak berdaya yang memerlukan pemenuhan kebutuhan spiritual/kerohanian atau agama. Bagi penderita penyakit terminal seperti HIV/AIDS, pemenuhan kebutuhan spiritual merupakan hal yang sangat penting. Menurut Penelitian Fryback, pasien dengan penyakit terminal mengalami ketakutan dan keresahan yang luar biasa karena dihadapkan pada kematian yang belum pasti. Dalam keadaan seperti ini, pasien yang memiliki tingkat spiritualitas tinggi, lebih mampu menghadapi kondisi ini dengan baik karena mereka mampu memaknai dengan lebih baik sakit dan sisa hidup yang harus dijalani. (Agustin, 2005)


Berkaitan dengan spiritualitas dalam penanganan HIV/AIDS sebagaimana di atas Dokter Annelies Wilder-Smith, dokter tetap di Pusat Penyakit Menular di Tan Tock Seng Hospital Singapura, men-sharing-kan keprihatinannya bahwa para pekerja kesehatan sering tidak memberi cukup perhatian terhadap pentingnya spiritualitas dalam kehidupan para pasien. Lebih lanjut ditegaskan bahwa spiritualitas itu "jauh melebihi kewajiban-kewajiban religius dan moral," dimana spiritualitas itu "berkenaan dengan hubungan seseorang dengan Allah." (Asyhar, 2009)

Pendekatan spiritualitas bukan berarti mengubah kepercayaan masing-masing pasien melainkan meningkatkan kekuatan spiritual mereka dalam menghadapi penyakitnya. Tujuan pendekatan ini adalah membuat pasien dapat menerima kenyataan sepenuhnya dan dapat melewati fase-fase terakhir dalam hidupnya dengan damai dan tenang, membuat dia merasa kembali pada Tuhan, seperti manusia lainnya di mana tidak ada seorang pun yang dapat mencegah datangnya kematian. Signifikansi dimensi spiritual dalam penanganan pasien HIV/AIDS sudah sepatutnya menjadi perhatian konselor yang menjalankan perannya memberikan terapi psiko-sosio-spiritual melalui pelayanan konseling pada berbagai klinik VCT (Voluntary Conselling Test). Keberadaan VCT di beberapa rumah sakit merupakan pintu gerbang awal bagi penderita HIV/AIDS untuk mendapatkan perawatan dan dukungan terhadap kompleksnya problem (biopsikososiospiritual) yang dihadapi atau mereka yang beresiko tinggi terkena HIV/AIDS, sekaligus sebagai strategi efektif pencegahan dan perawatan HIV. (Naing, 2004)

Beberapa argument di atas diketahui betapa pentingnya perhatian terhadap dimensi spiritual dalam pelayanan konseling bagi penderita HIV/AIDS. Dimensi spiritual ini merupakan (Voluntary Conselling Test)9. Keberadaan VCT di beberapa rumah sakit merupakan pintu gerbang awal bagi penderita HIV/AIDS untuk mendapatkan perawatan dan dukungan terhadap kompleksnya problem (biopsikososiospiritual) yang dihadapi atau mereka yang beresiko tinggi terkena HIV/AIDS, sekaligus sebagai strategi efektif pencegahan dan perawatan HIV. (Naing, 2004)
Rumah sakit Panti Wiloso Citarum merupakan satu-satunya RS Swasta yang memiliki layanan VCT di Semarang. Keberadaan VCT menjadi nilai strategis dalam rangka melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di kota Semarang (kota dengan angka HIV/AIDS tertinggi di Provinsi Jawa Tengah) bersama tiga VCT lainnya (RSUP Karyadi, RSUD Tugurejo dan RSU Ketileng). VCT RS Panti Wiloso didirikan sejak tahun 2005 dengan didukung oleh GF ATM (The Global Fund of fight AIDS, Tubercolosisi, Malaria). Di lihat dari struktur Tim VCT yang dibentuk, Tim VCT RS Panti Wiloso telah memiliki struktur yang lengkap yaitu terdiri dari dokter, konselor, petugas laboratorium, petugas CST (Care, Support, Treatment), petugas farmasi dan administrasi. Dari aspek lainnya RS ini merupakan rumah sakit yang menjaga komitmen memberikan pelayanan kerohanian bagi pasien sebagai bukti perhatian pada aspek spiritual dalam menerapkan pendekatan holistik dalam pelayanan kesehatan. (Yusuf, 2008)

Beberapa argument di atas diketahui betapa pentingnya perhatian terhadap dimensi spiritual dalam pelayanan konseling bagi penderita HIV/AIDS. Dimensi spiritual ini merupakan masalah sentral yang menarik untuk dilakukan kajian lebih lanjut tentang “bagaimana sebenarnya dimensi spirit ual” dalam praktek konseling bagi penderita HIV/AIDS di klinik Voluntary Conselling Test. (Faqih, 2000)

1.2       Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas, maka timbullah berbagai masalah yang dapat di indentifikasi, yaitu apa spiritual pada pasien HIV / AIDS?

1.3       Tujuan
            1.3.1    Tujuan Umum
Membantu mahasiswa mengetahui tentang apa itu Spiritual pada pasien HIV / AIDS



            1.3.2    Tujuan Khusus
1.      Untuk Mengetahui Spiritual dalam Konseling
2.      Untuk Mengetahui Konseling HIV/AIDS dan Voluntary Counseling Test (VCT)
3.      Untuk Mengetahui Dimensi Spiritual Dalam Praktik Konseling Bagi Penderita HIV/AIDS Di Klinik Voluntary Counseling Test (VCT)
4.      Untuk Mengetahui Pelayanan Konseling di Klinik Voluntary Counseling Test (VCT) Rumah Sakit Panti Wiloso Citarum Semarang












                            










BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1       Spiritual Dalam Konseling
Spiritualitas dalam ranah konseling menjadi kajian yang penting seiring adanya kesadaran bahwa terapi selama ini kurang memberikan perhatian yang sempurna pada manusia sebagai mahluk yang multidimensional. Kesadaran akan perlunya pendekatan holistik dalam konseling menuntut manusia dipandang sebagai mahluk yang utuh yaitu mahluk biologis, mahluk psikologis, mahluk sosiologis, mahluk berbudaya dan mahluk spiritual atau religius. Hal ini berimplikasi pada landasan yang menjadi dasar pelayanan konseling yang meliputi landasan historis, filosofis, sosial budaya, psikologis, dan religius. (Prayitno, 2000)

Seseorang yang membutuhkan konseling atau klien pada dasarnya adalah individu yang mengalami kekurangan “psichological strenght” atau “daya psikologis” yai tu suatu kekuatan yang diperlukan untuk menghadapi berbagai tantangan dalam keseluruhan hidupnya termasuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya. Daya psikologis mempunyai tiga dimensi yaitu need fulfillment Pemenuhan kebutuhan (M. Surya, 2003)

(kompetensi interpersonal), dan interpersonal competencies (kompetensi intrapersonal). Tugas konselor adalah tiga dimensi daya psikis ini, sehingga diharapkan klien dapat meningkatkan psichological strenght. Namun seiring dengan kesadaran bahwa manusia adalah mahluk spiritual atau religius, tentunya pelayanan konseling tidak hanya memenuhi kebutuhan psichological strenght klien semata, namun mampu memenuhi kebutuhan spiritual/religius. Perhatian terhadap dimensi spiritual ini semakin dikembangkan dengan adanya konsep “wellnes s” dalam konseling. Kondisi “wellness” klien merupakan tujuan dari keseluruhan proses konseling. (M. surya, 2003)



Dimensi spiritual atau religiusitas dalam aktivitas konseling menjadi cukup signifikan, karena konseling merupakan aktivitas yang fokus pada upaya membantu (building relationship) individu atau klien dengan segala potensi dan keunikannya untuk mencapai perkembangan yang optimal. Sementara dimensi spiritual/religius berfungsi sebagai radar yang mengarahkan pada suatu titik tentang realitas, bahwa terdapat aspek-aspek kompleks pada diri individu yang tak terjangkau untuk ditelusuri dan dijamah, serta menyadarkan bahwa apek hidayah hanya datang dari Sang Penggenggam kehidupan itu sendiri.38 Impelementasi dimensi spiritual dalam konseling sebagaimana di atas, membutuhkan dedikasi seorang konselor yang mampu menyakinkan dirinya akan adanya integrating antara spirituality dan counseling sehingga dapat bertindak holistik dalam mengintervensi klien.39 Dari dua pendapat ini, dapat dipahami bahwa dimensi spiritualitas dalam praktik konseling dibutuhkan komitmen dari konselor untuk membangkitkan spiritulitas dalam diri klien, namun perlu digaris bawahi pada dasarnya spiritulitas bergantung pada individu  masing-masing  dan  ada  peran  Tuhan  yang  tidak mungkin tergantikan oleh manusia dalam hal ini konselor. (Agustin, 2005)

2.2       Konseling HIV/AIDS dan Voluntary Counseling Test (VCT)
1.      Pengertian Konseling HIV/AIDS dan Voluntary Counseling Test (VCT)
      Konseling HIV/AIDS merupakan wawancara yang bisa dikatakan sangat rahasia antara klien dan pemberian layanan (konselor) yang bertujuan membuat orang tersebut mampu menyesuaikan diri dengan stres dan mampu membuat keputusan terkait dengan HIV/AIDS. Proses konseling ini termasuk evaluasi terhadap resiko penularan HIV dan memfasilitasi pencegahan perilaku seseorang yang beresiko tertular HIV/AIDS serta evaluasi diri ketika klien menghadapi hasil tes HIV positif. (Priyanto, 2009)

        VCT adalah suatu pembinaan dua arah atau dialog yang berlangsung tak terputus antara konselor dan kliennya dengan tujuan untuk mencegah penularan HIV, memberikan dukungan moral, informasi, serta dukungan lainnya kepada ODHA, keluarga dan lingkungannya. Jadi VCT memberikan konseling secara menyeluruh yatu dari awal pra test, pasca tes dan konseling berkelanjutan bagi klien agar mampu beradaptasi dengan penyakitnya bahkan memfasilitasi konseling antara klien dan keluarganya. Konseling      HIV/AIDS      pada    dasarnya          sama    dengan konseling  pada  umumnya.  Namun  konseling  HIV/AIDS menjadi unik dibanding konseling lainnya karena :
a.       Membutuhkan pengetahuan yang luas tentang infeksi menular seksual (IMS) dan HIV/AIDS
b.      Membutuhkan pembahasan mengenai praktik seks yang bersifat pribadi.
c.       Membutuhkan pembahasan tentang kematian atau proses kematian.
d.      Membutuhkan kepekaan konselor dalam menghadapi perbedaan pendapat dan nilai yang mungkin sangat bertentangan dengan nilai yang dianut oleh konselor itu sendiri.
e.       Membutuhkan ketrampilan pada saat memberikan hasil HIV yang positif.
f.       Membutuhkan ketrampilan dalam menghadapi kebutuhan pasangan anggota keluarga klien (Nursalam, 2009)

2.      Tujuan Konseling HIV/AIDS dan Voluntary Counseling Test (VCT)
Menurut Amaya Maw Naing dkk, tujuan umum konseling HIV/AIDS ada tiga yaitu :
a.       Menyediakan dukungan psikologis misal dukunga yang berkaitan dengan kesejahteraan emosi, psikologik, sosial dan spiritual seseorang yang mengidap virus HIV atau lainnya.
b.      Pencegahan penularan HIV dengan menyediakan informasi tentang perilaku beresiko seperti seks aman atau penggunaan jarum berdasarkan bersama dan membantu orang dalam mengembangkan ketrampilan pribadi yang diperlukan untuk perubahan perilaku dan negosiasi praktek aman lainnya.
c.       Memastikan efektivitas rujukan kesehatan, terapi, dan perawatan melalui pemecahan masalah kepaturahn berobat.







Nursalam dan Ninuk Dian Kurniawati menyebutkan tujuan VCT adalah :
a.       Upaya mencegah HIV / AIDS
b.      Upaya untuk mengurangi kegelisahan, meningkatkan persepsi/pengetahuan mereka tentang factor-faktor resiko penyebab seseorang terinfeksi HIV.
c.       Upaya pengembangan perubahan perilaku, sehingga secara dini mengarahkan mereka menuju ke program pelayanan dan dukungan termasuk akses terapi antiretroviral, serta membantu mengurangi stigma dalam masyarakat

3.      Konselor dan Klien (Sasaran) Voluntary Counseling Test
      Konseling HIV/AIDS dapat diberikan oleh para dokter, perawat, psikolog,petugas sosial dan orang-orang lain yang dapat memahami, terdorong dan terlatih untuk memberikan konseling. Jadi konselor HIV/AIDS bisa berasal dari latar belakang apapun dengan persyaratan mengikuti pelatihan konseling profesional yang dalam hal ini telah ada standarisasi yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan.
                  Kualitas konselor menentukan keefektifan konseling. Karenanya konselor HIV/AIDS setidaknya memiliki ciri antara lain berkeinginan untuk belajar dari pengalaman, kemampaun untuk menerima orang lain, kemampuan mendengarkan cara pandang optimis, sikap yang tidak menghakimi, kemampuan menyimpan rahasia, kemampuan memberikan dukungan, empati, memahami keterbatasan klien, mengerti keterbatasan diri sendiri dan dapat merujuk pada pihak lain.49 Semua kualitas konselor tersebut sangat dibutuhkan dalam menjalankan tugas yang antara lain membantu klien menyesuaikan diri pada perubahan perilaku, dan memiliki keahlian dan kemampuan membantu klien mengatasi masalahnya.50 Dengan demikian pada dasarnya konselor HIV/AIDS sama dengan konselor pada umumnya yang diharuskan memiliki kompetensi moral, kepribadian, dan ketrampilan membantu. Dimana kompetensi sebagai konselor salah satunya diperoleh melalui pelatihan konselor profesional HIV/AIDS yang didalamnya diberikan materi tentang penyakit HIV/AIDS dan  berbagai  isu  tentang  penyakit  tersebut,  ketrampilan konseling, kode etik, dan evaluasi konseling.

Konseling HIV/AIDS merupakan konseling khusus yang diperlukan bagi:

a.    Orang-orang yang khawatir bahwa mereka mungkin telah terinfeksi HIV.
b.   Orang-orang yang mempertimbangkan untuk memeriksakan diri untuk mengetahui apakah dia terinfeksi HIV.
c.    Orang-orang yang baru saja mengetahui status antibodinya tanpa mengindahkan hasilnya psoitif atau negatif.
d.   Orang-orang yang tahu bahwa mereka telah terinfeksi HIV dan memerlukan bantuan untuk menerima kenyataan itu.
e.    Orang-orang yang memilih tak perlu diperiksa meskipun dia berperilaku risiko tinggi dulu ataupun sekarang.
f.    Orang-orang yang mengalami gejala-gejala sakit yang berhubungan dengan infeksi HIV.
g.   Orang-orang yang mengalami kesulitan dengan pekerjaan, perumahan, keuangan, keluarga dan lain-lain akibat terinfeksi HIV atau mengalami AIDS.
h.   Petugas kesehatan dan orang-orang lain yang secara tetap berhadapan dengan orang yang terinfeksi HIV atau mengalami AIDS.

4.      Jenis pelayanan Voluntary Counseling Test (VCT)
      Pelayanan konseling HIV/AIDS paling tidak menyediakan konseling pre-pasca test. Namun biasanya masih menyediakan konseling berkelanjutan yang dibutuhkan odha. Secara rinci jenis pelayanan konseling
HIV/AIDS :
a.       Konseling untuk pencegahan terjadinya HIV/AIDS, konseling ini diberikan kepada orang atau kelompok yang dianggap belum terinfeksi HIV agar dia dapat menentukan pilhan tentang gaya hidup dan tanggung jawabnya. Apabila seseorang menentukan untuk menjalani tes HIV, dia harus mendapat penjelasan mengenai aspek tehnis pemeriksaan, kemungkinan implikasi personal, kesehatan, sosial, psikologis dan hukum bila hasil tes positif maupun negatif.


b.      Konseling pra-pasca-tes,
             Konseling pra tes HIV membantu klien menyiapkan diri untuk pemeriksaan darah HIV dan memfasilitasi tentang cara menyesuaikan diri dengan status HIV. Dalam konseling ini didiskusikan juga soal seksualitas, hubungan relasi, perilaku seksual dan suntikan berisiko, dan membantu klien melindungi diri dari infeksi. Konseling dimaksud juga untuk meluruskan pemahaman yang salah tentang AIDS dan mitosnya. Sedangkan Konseling pasca tes merupakan kegiatan konseling yang harus dilakukan setelah hasil tes diketahui, baik hasilnya positif atau negatif. Konseling pasca tes sangat penting untuk membantu mereka yang hasil tesnya positif agar dapat mengetahui dan menghindarkan HIV kepada orang lain. Bagi mereka yang hasilnya negatif bermanfaat untuk membantu tentang berbagai cara mencegah infeksi HIV di masa mendatang.

c.       Konseling keluarga
             konseling jenis ini dibutuhkan dalam rangka mengkomunikasikan status klien terhadap keluarganya. Konseling keluarga adalah upaya bantuan yang diberikan kepada individu anggota keluarga melalui sistem keluarga (pembenahan komunikasi keluarga) agar potensinya berkembang seoptimal mungkin dan masalahnya dapat diatasi atas dasar kemauan membantu dari semua anggota keluarga berdasarkan kerelaan dan kecintaan terhadap keluarga.60 Konseling keluraga ini diharapkan akan menumbuhkan penerimaan keluarga atas diri anggota keluarganya yang positif HIV/AIDS dan membantu agar keluarga memberikan dukungan total yang dibutuhkan anggota keluarganya yang terinfeksi HIV/AIDS.

d.      Konseling berkelanjutan
             konseling berkelanjutan merupakan konseling bagi para odha. Konseling ini sangat dibutuhkan odha untuk memahami perjalanan penyakitnya dan isu psikososial yang dialami pada perjalanan lanjut penyakit. Intervensi isu psikososial sangat dibutuhkan klien untuk membangun jejaring dukungan, mengembangkan otonomi diri, dan meningkatkan kendali. Pilihan intervensi yang bisa dilakukan adalah konseling (individual, pasangan, keluraga,pastoral/agama), jejaring dukungan kelompok dan sebaya, dukungan emosional dan spiritual, manajemen obat dan lain-lain.

e.       Konseling kepatuhan berobat
             pasien yang telah mendapat hasil tes positif secara otomatis harus mengkonsumsi antiretroviral (ARV) selama hidupnya untuk menekan virus. Konseling kepatuhan berobat sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan komitemen berobat dan memecahkan masalah selama menjalani terapi. kepatuhan berobat adalah kemampuan klien untuk melakukan pengobatan sesuai petunjuk medik (dosis, waktu dan cara pemberian yang tepat). Kepatuhan adalah faktor yang menentukan efektivitas pengobatan. Kepatuhan yang buruk membuat dampak ganda yaitu mengeluarkan banyak dana dan memperburuk kualitas kesehatan pasien. Bagi pasien, ketidakpatuhan berobat akan mengakibatkan kegagalan antiretroviral melawan virus, sehingga virus resisten dan terjadi kegagalan imunologik dan keadaan klinis memburuk. Pandangan kesehatan masyarakat menyatakan bila terjadi resistensi terhadap pengobatan maka pengobatan tidak efektif atau berhenti bekerja sehingga diperlukan upaya baru untuk melawan infeksi dengan obat lain.

f.       Konseling pada mereka yang mengadapi kematian Penyakit HIV/AIDS merupakan penyakit terminal yaitu penyakit yang berujung pada kematian. Sebagian besar odha dihadapkan pada ketakutan akan kematian. Konseling sangat dibutuhkan bagi mereka yang dalam masa menghadapi masa terminal (sedang menghadapi masa kematiannya). Konseling dibutuhkan bagi klien untuk memenuhi kebutuhan psikologis seperti menghilangkan perasaan bersalah, menyiapkan diri dengan tenang menjelang ajal, memotivai klien untuk tetap beribadah dan berdoa. Selain itu odha juga mengalami  diskriminatif  atau  stigma  dan  orang  takut menjenguk, sehingga diperlukan memberikan pemahaman kepada klien dan juga keluarganya. Beragam jenis layanan konseling yang telah disebutkan dapat dilakukan konselor dengan melihat kebutuhan dari setiap klien. Hal ini mengingat setiap odha memiliki pengalaman dan permasalah yang berbeda-beda sehingga dibutuhkan penanganan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi klien.

5.      Model Layanan dan Metode Konseling HIV/AIDS
Model layanan VCT dilakukan dalam lima pendekatan yaitu :
a.             Layanan mandiri
Layanan mandiri ini menawarkan VCT jauh dari layanan fasilitas kesehatan. Biasanya dikelola oleh LSM lokal atau interlokal, dan menjadikan VCTdan kewaspadaan publik menjadi tulang punggungnya. Keuntungannya : keluluasaan jam buka, terpisah dari layanan medik, berhubungan dengan masyarakat, dukungan kelompok pasca tes. Kerugiaan : pendanaan tergantung pendonor, berpotensi membuat stigma karena layanan di buka di tempat umum/publik, petugas yang mudah jenuh.

b.            Layanan terintegrasi dengan pelayanan kesehatan. Layanan ini terintegrasi dalam pelayanan kesehatan yang telah ada misalnya di puskesmas atau di rumah sakit. Konseling dilakukan oleh konselor terlatih atau staf puskesmas yang telah mendapakan pelatihan konseling HIV/AIDS. Keuntungan layanan ini biaya rendah, mudah ditingkatkan, stigma lebih kecil, ada hubungan dengan intervensi medik, akses untuk perempuan/ dan kawula muda. Kerugian peningkatan beben kerja, syarat ruangan, akses terbatas untuk pasangan, dan kualitas konseling buruk.

c.             Sektor swasta
         Layanan ini dibuka oleh dokter swasta yang membuka praktek umum. Tes HIV seringkali dilakukan tanpa adanya pelayanan konseling pra tes, atau persetujuan tertulis dan kendali mutu yang tak memadai dalam prosedur tes HIV. Keuntungannya dokter swasta dapat memberikan terapi lanjutan bagi odha. Keuntungan : akses terbatas karena biaya mahal dan kurang terjamin kerahasiaannya.

d.            Tes  di rumah
                  Model ini dilakukan dengan melakukan tes sendiri di rumah. Model ini telah berkembang di Amerika. Namun kelemahannya karena tidak ada konseling pra-post tes kecenderungan risiko bunuh diri tinggi.

e.          Layanan VCT melalui jangkauan masyarakat
         Model ini dilakukan dengan diadakannya unit VCT keliling untuk menjangkau masyarakat yang jarang mengunjungi fasilitas kesehatan seperti masyarakat pedesaan atau tempat khusus yang sengaja dikunjungi seperi pesantren dan sekolah bahkan menjangkau kelompok marginal seperti gelandangan, penjaja seks, IDU.


6.      Evaluasi dan Supervisi
      Penilaian merupakan salah satu unsur penting dalam sistem pelayanan bimbingan dan konseling. Evaluasi adalah penilaian terhadap pemberian bantuan dari konselor/pembimbing kepada klien.76 Tujuan penilaian bimbingan konseling adalah untuk menaksir hasil bimbingan konseling dan menilai proses bimbingan konseling. Untuk mencapai tujuan evaluasi tersebut, berbagai model evaluasi bisa dilakukan untuk mengetahui kualitas pelayanan bimbingan dan konseling yang secara sederhana dapat menggunakan indikator “sejauh mana layanan bimbingan dan konseling mampu memenuhi kebutuhan klien (pasien).
      Kriteria penilaian bisa mengacu pada pendapat Goetsch dan Davis (1994) yaitu dengan menilai mutu layanan bimbingan dan konseling dari sisi mutu proses dan mutu produk. Pertama, mutu proses dipengaruhi oleh mutu program layanan,mutu konselor dan fasilitas serta dana yang memadai. Kedua, mutu produk berkaitan dengan keberhasilan membantu klien secara total baik masalah yang sekarang dihadapi tetapi juga masalah pribadi lain dari klien.
                           



Evaluasi dalam pelayanan konseling HIV/AIDS menjadi hal yang sangat penting mengingat konseling HIV/AIDS di berbagai klinik VCT ditekankan pada jaminan kualitas secara total. Jaminan kualitas yang dimaksud adalah kualitas fisik tempat layanan, pemberian layanan, kualitas institusi VCT, kualitas konselor, kualitas teknisi laboratorium, dan kualitas manajemen data.79 Evaluasi konselor sendiri dilakukan melalui supervisi yaitu penilaian antara konselor VCT dan juga evaluasi ekstenal yang melibatkan klien yang menerima layanan konseling.
Pertama evaluasi melalui konseling supervise dan dukungan. supervisi merupakan hubungan kerja antara supervisor dan yang disupervisi (supervisee), dimana supervisee memberikan catatan pekerjaannya untuk dipantulkan dan menerima umpan balik dan atau petunjuk. Tujuan dari kerjasama ini adalah meningkatkan kompetensi etikal, rasa percaya diri, dan aktivitas dengan demikian dapat memberikan pelayanan yang terbaik pada klien. Karena itu supervisi juga untuk proteksi klien, kelanjutan akuntabilitas, dan pengembangan profesionalitas dari supervisee.

2.3  Dimensi Spiritual Dalam Praktik Konseling Bagi Penderita HIV/AIDS Di Klinik Voluntary Counseling Test (VCT)
Penyakit AIDS merupakan penyakit yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia yaitu sel-sel darah putih atau limfosit atau disebut juga sel T penolong (T-Helper).83 Penyakit ini sering kali berujung pada kematian bagi penderitanya. Angka kematian HIV AIDS di Jawa Tengah dari tahun 2006-2011 adalah 555 orang, belum termasuk yang tidak terindenfikasi.
Ketakutan atau bayangan akan kematian merupakan salah satu problem yang dihadapi penderita HIV/AIDS disamping sederetan problem lainnya yang begitu kompleks. Menurut NANDA (North American Nursing Diagnosis) Internasional Taksonomi  II, diagnosis  keperawatan yang kemungkinan ditemukan pada pasien dengan HIV/AIDS antara lain :
1.      Intoleransi aktivitas. Hal ini berhubungan dengan kelemahan dan efek samping pengobatan seperti demam dan infeksi paru.
2.      Kecemasan yang berhubungan dengan persepsi tentang efek penyakit dan gaya hidup.
3.      Gangguan konsep diri karena penurunan berat badan dan gangguan seksual.
4.      Ketegangan terhadap proses perawatan yang begitu panjang.
5.      Infeksi sususanan syaraf pusat
6.      Koping keluarga berkaitan dengan pemahaman yang tidak tepat tentang penyakit kronis.
7.      Koping yang tidak efektif dalam menjalani masa krisis.
8.      Diare
9.      Kurangnya aktivitas pengalihan sebagai akibat terlalu lama menjalani pengobatan medis.
10.  Kelelahan yang berhubungan dengan proses penyakit dan kebutuhan psikologis emosional yang sangat banyak.
11.  Takut yang berhubungan dengan ketidakberdayaan diri, kemungkinan dikucilkan, kesejahteraan diri dan kematian.
12.  Berduka berhubungan dengan kematian, perubahan gaya hidup dan penampilan, serta kehilangan fungsi tubuh.
13.  Keputusasaan berhubungan dengan perubahan kondisi fisik
14.  Ketidakseimbangan nutrisi dan nyeri akut sebagai efek samping pengobatan.
15.  Ketidakberdayaan berhubungan dengan penyakit terminal dan perjalanan penyakit yang tidak bisa diprediksi.
16.  Kurangnya perawatan diri karena penurunan fungsi tubuh.
17.  Harga diri rendah
18.  Perubahan persepsi sensori seperti kehilangan pendengaran dan penglihatan sebagai efek pengobatan.
19.  Pola seks tidak efektif
20.  Kerusakan integritas kulit.
21.  Perubahan pola tidur.
22.  Isolasi  social berhubungan dengan stigma, moral dan dikriminasi serta ketakutan orang lain terhadap penyakit.
23.  Distres spiritual berhubungan dengan tantangan sistem nilai dan kepercayaan.
24.  Adanya resiko kekerasan terhadap diri sendiri seperti melakukan bunuh diri

Dari sejumlah diagnosis tersebut dapat dilihat bahwa seseorang yang menderita penyakit HIV/AIDS mengalami masalah yang kompleks baik biologis karena penurunan fungsi tubuh dan sistem kekebalan, masalah psikologis seperti cemas, takut,  rendah  diri  dan isolasi  sosial,  serta  masalah spiritual (keyakinan dan nilai). Terapi spiritual pada penderita       HIV/AIDS      memiliki kedudukan yang sama pentingnya dengan terapi medis maupun terapi psikososial. Mengingat bahwa sebenarnya spiritualitas merupakan kebutuhan       dasar    manusia. Sebagaimana dikemukakan  oleh Dr. Howard Clinebell (1980) dalam tulisannya yang           berjudul ”The  Role of Religion in the Prevention and Treatment of Addictions the Growth Counseling Perspective” pada konferensi pertama ”Pan Pacific on Drugs   and Alchoholism”, bahwa pada dasarnya setiap manusia memiliki kebutuhan dasar spiritual (”basic     spiritual needs”) tidak hanya bagi mereka yang beragama, tetapi bagi mereka yang sekuler sekalipun. Dengan demikian menjadi semakin kuat bahwa spiritualitas merupakan kebutuhan semua manusia termasuk penderita HIV/AIDS.

Pemenuhan terhadap kebutuhan spiritualitas ternyata memberikan kontribusi yang maha penting dalam perjalanan hidup orang dengan HIV/AIDS. Hal ini didukung dengan berbagai penelitian antara lain oleh Woods (1999) dari University of Miami untuk mengetahui hubungan antara fungsi kekebalan tubuh pada pasien HIV positif dengan komitmen agama. Pasien yang aktif menjalankan peribadatan keagamaan menunjukkan jumlah CD4+ dan presentase CD4+ (T-helper-inducer cells) meningkat, yang berarti bahwa sistem kekebalan tubuh berjalan dengan baik. Dengan demikian progresivitas penyakit dapat dihambat sehingga umur pasien menjadi lebih panjang.87 Penelitian lain dilakukan di Yale University School of Medicine terhadap 90 pasien dengan HIV positif untuk mengetahui reaksi mereka terhadap kecemasan menghadapi kematian, keputusasaan untuk mengakhiri kehidupan, tingkat religi, dan adanya rasa bersalah/berdosa terhadap infeksi HIV yang dideritanya. Dari survey tersebut diperoleh data bahwa mereka yang aktif melakukan kegiatan keagamaan, kecemasan/ketakutan terhadap kematian sangat rendah. Kecemasan/ketakutan menghadapi kematian terdapat 25% pasien yang merasa bahwa penyakit yang dideritanya itu sebagai hukuman. Dari survey tersebut disimpulkan bahwa infeksi HIV menjadikan pasien lebih religius, mereka yakin bahwa Tuhan Maha Pengampun, Maha Penyayang, sehingga mereka dapat menerima penyakit yang dideritanya dengan kematian lebih awal. Hasil kajian di atas telah membuktikan bahwa spiritualitas/religiusitas mampu menjawab dinamika psikologis yang dihadapi penderita HIV/AIDS. Dimana menurut Kubler Ross (1974), setiap individu yang terkena penyakit kronis akan mengalami beberapa fase mulai penolakan/denial,marah/anger, tawar menawar/bargaining, depresi/depression, dan menerima/acceptance. Selama melalui tahapan psikologi ini seseorang dengan HIV/AIDS membutuhkan tindakan pendampingan yang intensif bahkan konseling dimana pada tiap tahapan membutuhkan tindakan berikut:

2.png1.png





















Dari table diatas terlihat bahwa pada fase – fase terakhir dibutuhkan pemenuhan penguatan dan peningkatan spiritualitas pasien. Selain pada hakikatnya spiritualitas menjadi kekuatan utama pasien menghadapi penyakitnya dengan konsekuensi dihadapkan pada kematian.

VCT menyediakan beragam layanan konseling seperti konseling untuk pencegahan terjadinya HIV/AIDS, konseling pra-tes, konseling pasca-tes, konseling keluarga, konseling berkelanjutan dan konseling pada mereka yang mengadapi kematian. Konseling yang diberikan diharapkan mampu memberikan dukungan psikologis seperti dukungan yang berkaitan dengan kesejahteraan emosi, psikologis, sosial, dan spiritual seseorang yang terinfeksi HIV/AIDS, menyediakan informasi tentang perilaku beresiko, membantu klien mengembangkan ketrampilan pribadi dalam menghadapi penyakit, dan mendorong untuk melakukan kepatuhan pengobatan. Dengan demikian semakin jelas bahwa VCT berusaha memberikan bantuan dan memfasilitasi kebutuhan penderita HIV/AIDS ataupun masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit ini.

Arah konseling bagi penderita HIV/AIDS adalah memberikan beragam dukungan yang dibutuhkan dalam menghadapi penyakitnya. Dukungan tersebut meliputi penguatan dan pengingkatan spiritualitas yang dibutuhkan dalam menghadapi dinamika psikologis seperti membantu menurunkan kecemasan atau stres dan dapat membantu klien untuk beradaptasi dengan kondisinya sekarang dan berbagai perubahan yang mungkin terjadi. Sehingga dalam hal ini konseling dengan pendekatan spiritualitas dapat menumbuhkan dan membantu klien membangun strategi koping Di sini terlihat bahwa spiritualitas dapat dijadikan Copyng strategy yang efektif bagi penderita HIV/AIDS.

Berbagai kenyatan telah menunjukkan bahwa dimensi spiritual memiliki kontribusi yang positif di atas semakin mempertegas pentingnya perhatian yang serius terhadap dimensi ini dalam pelayanan konseling bagi penderita HIV/AIDS. Konseling benar-benar ditekankan pada terbentuknya ” wellness” yaitu konsep sehat yang tidak hanya mengarah pada sehat mental, akan tetapi kepribadian secara menyeluruh sebagai suatu refleksi kesatuan unsur jasmani dan rohani, serta interaksinya dengan dunia luar. Wellness disini terdiri dari lima unsur yaitu spiritualitas, regulasi diri, pekerjaan, persahabatan dan cinta.

Spiritualitas adalah tugas hidup pertama dan sentral dari kebulatan wellness. Dimensi spiritualitas merupakan naluri keagamaan dari setiap manusia sejak dulu kala hingga masa kini dalam berbagai peradaban, budaya, dan bangsa. Naluri religi tercermin dalam kesadaran akan nilai-nilai suci dan esensial bagi kode-kode etika, moral, dan hukuman yang digunakan untuk melindungi dan memilihara kesucian hidup. Tugas ini memiliki dimensi KeMahaesaan Tuhan, kedamaian hidup, makna dan tujuan hidup, optimisme atau harapan dalam antisipasi masa depan, dan nilai-nilai untuk membimbing hidup dan pembuatan keputusan.

Sementara menurut Patricia Potter dkk, kesehatan spiritual adalah keharmonisan saling kedekatan antara diri dengan orang lain, alam, dan dengan kehidupan yang tertinggi. Lebih lanjut dijelaskan bahwa spiritualitas meliputi beberapa aspek yaitu :
1.         Keyakinan dan makna hidup
2.          Autoritas dan pembimbing
3.          Pengalaman dan emosi
4.          Persahabatan dan komunitas
5.          Ritual dan ibadat
6.          Dorongan dan pertumbuhan
7.          Panggilan dan konsekuensi

Ketujuh dimensi spiritual di atas merupakan aspek-aspek yang perlu digali dalam rangka membangkitkan spiritualitas penderita HIV/AIDS sehingga dapat memberikan kekuatan ditengah kelemahan diri karena penyakitnya. Respons spiritual klien harus diarahkan pada respons adaptif dengan cara menguatkan harapan yang realistis, pandai mengambil hikmah, dan ketabahan hati. Respons adaptif spiritual ini memberikan dampak yang positif untuk memunculkan koping yang efektif. Berbagai aspek spiritulitas pada dasarnya merupakan pemenuhan kebutuhan akan interaksi antar manusia yang mampu menjadi sumber harapan dan membangun hubungan dengan Tuhan dengan ritual dan ibadah yang mampu menjadi sumber kekuatan yang menyumbangkan lahirnya psikologis positif dalam diri seseorang. Ketahanan psikologis seperti ini membuat penderita kebal terhadap stres, yang berarti mampu menekan perkembangan penyakitnya, karena HIV/AIDS merupakan salah satu penyakit yang dipengaruhi oleh stres.

Stres dalam kajian psikoneuroimunologi akan mengakibatkan terganggunya kinerja kelenjar endokrin yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Sebaliknya kondisi bebas stres akan meningkatkan kerja kelenjar endokrin yang artinya meningkat pula system kekebalan tubuh. Dengan demikian menjadi sangat penting menumbuhkan respons adaptif psikologis dan spiritual dimana keduanya sangat berhubungan  dan  saling  mendukung  menumbuhkan  koping yang efektif  bagi  pasien HIV/AIDS.  Dan  di  sinilah  terlihat dengan  jelas  titik  penekanan  dari  konseling  bagi  penderita penyakit kronis yaitu pengembangan sikap dan ketahanan diri klien  dalam  berjuang  melawan  penyakitnya,  menumbuhkan kesabaran, ketabahan  dan  keuletan klien untuk  melakukan ikhtiar terbaik melawan penyakitnya yang secara medis sulit disembuhkan, namun sikap dan ketahanan dirinya lebih kuat dari  penyakitnya  itu  sendiri.  Dengan  kuliatas  mental  inilah diharapkan klien dapat membantu dirinya sendiri, mengurangi beban penderitaannya dan pada akhirnya klien dapat menerima mati

2.4   Pelayanan Konseling di Klinik Voluntary Counseling Test (VCT) Rumah Sakit Panti Wiloso Citarum Semarang
1.      Konselor
VCT RS Panti Wilasa Citarum memiliki empat orang konselor yang terdiri dari satu koordinator dan tiga orang anggota. Empat orang konselor ini merupakan konselor yang telah menempuh pendidikan dan pelatihan konselor HIV/AIDS sesuai standar WHO yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan di Jakarta. Pelatihan konselor VCT terdiri yaitu pelatihan konselor profesional dan pelatihan konselor senior (tahap berikutnya bagi konselor yang telah memiliki jam terbang tinggi). Keempat konselor ini telah memiliki tugas pokok di rumah sakit selain bertugas sebagai konselor VCT.
Koordinator konselor VCT, Ibu Purwanti atau lebih akrab dipanggil Mbak Pur merupakan salah satu tenaga pastoral care di rumah sakit ini. Demikian juga ketiga anggota konselor lainnya yaitu Eni Wijayanti, AMK, Kris Prasetyaningsih U. AMKeb, dan Sri Wahyuni, AMK. Ketiganya bertugas di pelayanan harian di bangsal rawat inap dan rawat jalan.
Pada dasarnya konselor HIV/AIDS sama dengan konselor pada umumnya. Titik perbedaannya adalah konselor HIV/AIDS dituntut untuk memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang penyakit HIV/AIDS, baik penularan, pencegahan dan perawatannya.Ketrampilan berkomunikasi memberikan peran penting dalam melaksanakan tugas memberikan konseling. Konselor selalu berhadapan dengan klien yang memiliki beragam kepribadian membutuhkan tehnik komunikasi khas. Artinya antar satu klien dengan klien lainnya memerlukan cara yang berbeda-beda.
Tehnik komunikasi sangat menentukan terjadinya hubungan yang baik antara klien dan konselor. Mba Pur mencontohkan bagaimana pentingnya komunikasi awal yang sangat menentukan perawatan dan tindakan berikutnya pada seorang klien yang diduga terinfeksi HIV oleh dokter yang merawat. Suatu ketika seorang pasien berusia 37 tahun, mengalami berbagai gangguan fisik seperti paru-paru sampai diare yang berlebihan sampai badan lemah dan kurus. Proses pengobatan melalui opname yang begitu lama tidak membuahkan hasil yang signifikan. Pada akhirnya dokter merujuk ke bagian VCT untuk melakukan tes. Pasien menolak bahkan marah-marah dan mengaku dirinya orang baik-baik yang tidak berperilaku macam-macam. Mba Pur sebagai konselor, setiap kali datang ke pasien selalu mendapat makian dengan kata-kata kasar. Namun dengan berbagai pendekatan terutama membawa misi kesehatan menjadi satu cara yang efektif. Konselor meyakinkan klien bahwa keinginan pasien datang berobat ke rumah sakit adalah sembuh. Jika selama ini dokter sudah merawat namun tidak ada perkembangan, maka perlu dilakukan pemeriksaaan lainnya demi kesembuhan. Apabila hal tersebut tidak dilakukan justru akan merugikan pasien sendiri seperti habis banyak biaya tapi tidak sembuh-sembuh. Argumen tersebut yang akhirnya membuka hati pasien untuk melakukan tes HIV. Hasilnya akhirnya positif si pasien terinfeksi HIV/AIDS. Ketika konseling pasca tes dilakukan pasien menunjukkan reaksi kaget dan diam begitu lama, sampai akhirnya menceritakan kebiasaan buruknya yang melakukan homoseks saat merantau di Kalimantan.
Komunikasi yang dibangun dengan baik oleh konselor sebagaimana di atas, pada akhirnya menjadi jalan terang atas kejelasan deteksi penyakit yang diderita pasien selama ini. Pasien pun mendapatkan perawatan dan pelayanan yang dibutuhkan seperti terapi ARV dan konseling keluarga hingga akhirnya pasien dapat kembali hidup normal dengan tetap mengkonsumsi obat selama hidupnya. Di sinilah menurut Mbak Pur tehnik komunikasi sangat penting dalam menjalankan tugasnya sebagai konselor VCT. Tugas konselor dalam konseling HIV/AIDS tidak terbatas pada penderita saja, namun melibatkan keluarganya. Konselor membutuhkan kemampuan komunikasi yang baik agar keluarga dapat mengerti dan akhirnya mampu menerima anggota keluarganya yang positif HIV/AIDS. Kemampuan lain yang dibutuhkan adalah helper skill atau ketrampilan membantu yaitu bagaimana konselor mampu mengarahkan penderita untuk menerima keadaanya dan melakukan pengobatan sebagaimana yang dianjurkan. Keluarga penderita dibantu agar tetap memberikan dukungan sosial yang dibutuhkan anggota keluarganya yang terkena HIV/AIDS.

2.       Klien
Klien yang ditangani di VCT Panti Wilasa hingga saat ini berjumlah 69 orang. Pada umumnya mereka yang datang untuk melakukan tes dan konseling karena kesadaran sendiri atas perilaku berisiko yang dilakukan. Klien ketegori ini, umunya mengalami kecemasan sendiri saat menyadari bahwa dirinya melakukan perilaku yang tidak sehat atau rentan terkena HIV seperti free seks, WTS, homoseks. Selain itu, karena rujukan dokter dan Lembaga Swadaya Masyarakat. Mereka yang datang karena rujukan dokter, biasanya diawali dengan gangguan fisik yang tak kunjung sembuh meskipun sudah ditangani dengan berbagai cara. Dari perjalanan penyakit yang demikian dan adanya tanda-tanda fisik yang mengarah HIV/AIDS, dokter akan memberikan rujukan untuk melakukan tes.

Di lihat dari latar belakang pendidikan dan pekerjaan klien VCT RS Panti Wilasa beragam. Pendidikan mulai dari SD, SMP, SMA, bahkan Sarjana. Sedangkan pekerjaan mulai dari swasta, PNS, ibu rumah tangga dan polisi. Penderita HIV/AIDS pada umumnya adalah usia produktif, hal ini pula yang ditemui di VCT ini. Usia produktif mulai dari 25-35 tahun hampir 80%, sedangkan usia di atas 35 tahun hanya 20%. Selain ada beberapa klien masih anak-anak akibat tertular dari orang tuanya. Klien yang ditangani secara umum adalah kaum laki-laki (suami/bujangan) yang memiliki kebiasaan tidak sehat yaitu pemenuhan kebutuhan seks tidak dengan pasangan atau suka jajan di luar. Sedangkan dari kaum perempuan umumnya tertular dari suaminya dan beberapa memang pejaja seks komersial (PSK).
Berdasarkan pengalaman konselor di VCT RS Panti Wilasa, reaksi psikologis pasien HIV/AIDS adalah :
a.       Shock atau kaget pada saat pertama kali divonis terinfeksi HIV/AIDS.
b.      Tidak percaya jika pada akhirnya kebiasaan yang tidak sehat yang pernah dilakukan dahulu berakibat seperti sekarang (terinfeksi HIV/AIDS).
c.       Penyesalan, perasaan ini umumnya muncul akibat tidak mengindahkan norma-norma agama dalam berperilaku, tetapi justru mengedepankan kesenangan semata.
d.      Merasa bersalah. Hal ini terjadi karena pasangan dan anaknya tertular virus HIV/AIDS.
e.       Merasa rendah diri. Hal ini terjadi karena klien merasa bahwa penyakitnya merupakan aib yang tidak harus diketahui orang lain. Akibat lanjut adalah kecurigaan klien yang tinggi terhadap orang-orang disekelilingnya yang membuat mereka cenderung mengucilkan diri dari lingkungan sosialnya.
f.       Kecemasan dan ketakutan akan kematian. Sebagian besar klien mengalami problem psikologis ini yang pada akhirnya kurang memiliki semangat hidup.
g.      Depresi. Berbagai konsekuensi penyakit yang diderita mengakibatkan klien bisa mengalami depresi panjang antara 1 – 2 tahun bergantung pada tipe kepribadian nya. Kehilangan perkerjaan, kesulitan ekonomi sampai dikucilkan keluarga akan memperburuk kondisi psikologis klien.

Menurut Mbak Pur selama ini belum sampai menangani pasien yang berusaha bunuh diri karena divonis HIV/AIDS. Hal ini demikian bisa dihindari atau dijembatani melalui proses konseling oleh konselor HIV/AIDS. Di sini peran konselor sangat menentukan dalam menyampaikan hasil tes, membantu klien mengatasi problem psikologisnya sampai pada komunikasi dengan keluarga perihal yang dialami salah satu anggota keluarganya.
Pada umumnya klien ingin merahasiakan status HIV/AIDSnya. Hal ini seperti ini memang menjadi asas kerahasiaan yang wajib dijaga oleh konselor. Namun, dalam perkembangannya klien HIV/AIDS sangat membutuhkan dukungan sosial dari keluarganya. Jika dukungan tidak didapatkan, maka klien justru akan semakin tertekan karena perubahan hidup yang harus dijalani seperti mengkonsumsi obat setiap hari, perubahan hubungan seks dengan pasangan dan lain sebagainya. Melihat pengalaman yang demikian dimana depresi yang semakin berat akan memperburuk kondisi bahkan mempercepat kematian klien, maka sejak awal intervensi konselor untuk melakukan konseling keluarga mulai ditekankan. Hal ini menjadi penting dilakukan mengingat umumnya klien tidak dapat membuka statusnya sendiri kepada pasangan atau keluarganya. Selain itu, dengan bantuan konselor berbagai reaksi psikologis yang muncul dari keluarga dapat terbantu untuk ditangani.

3.      Jenis Pelayanan
Sebagaimana VCT pada umumnya, VCT panti wilasa menyediakan berbagai jenis pelayanan seperti :
a.       konseling untuk pencegahan terjadinya HIV/AIDS,
b.      konseling pra-pasca-tes,
c.       konseling keluarga,
d.      konseling berkelanjutan
e.       konseling kepatuhan berobat
f.       konseling pada mereka yang mengadapi kematian11 Jenis layanan di atas diberikan disesuaikan dengan kebutuhan klien. Semua jenis layanan memberikan pengaruh penting sesuai dengan kondisi klien. Karenanya, satu jenis layanan bisa dilakukan dengan jenis layanan lainnya mengikuti perkembangan klien. Seperti konseling pre dan post tes, biasanya akan diikuti dengan konseling keluarga serta konseling kepatuhan berobat.

           Konseling pra tes HIV bertujuan membantu klien menyiapkan diri untuk pemeriksaan darah HIV dan memfasilitasi tentang cara menyesuaikan diri dengan status HIV. Bagi klien yang memiliki kesadaran sendiri, konseling yang dilakukan akan jauh lebih mudah karena sudah ada kesiapan individu untuk melakukan pemeriksaan darah. Sementara pasien yang merupakan rujukan dari dokter, konselor membutuhkan usaha untuk meyakinkan dilakukan tes demi tercapainya kesehatan yang diharapkan. Konselor membutuhkan tehnik tersendiri manakala pasien tidak mau melakukan tes dengan melakukan berbagai penyangkalan bahwa dirinya adalah orang baik-baik. Mitos bahwa HIV/AIDS merupakan penyakit bagi mereka yang suka melakukan free seks, homoseks, pejaja seks masih sangat melekat disebagian masyarakat sehingga memberikan satu kendala tersendiri.
           Konseling pre tes juga akan dilakukan kepada pasangan (suami/istri) dan anak yang pasangannya diketahui terinfeksi HIV/AIDS. Pada umumnya suami diketahui lebih dahulu terinfeksi virus ini, tindak lanjutnya adalah melakukan tes kepada semua anggota keluarga terutama isteri dan anak. Hal seperti ini tidak mudah, konseling pra dan pasca tes bersamaan pula dengan konseling keluarga. Dimana selain konselor melakukan pendekatan agar isteri dan anak melakukan tes HIV, dilanjutkan konseling pasca tes untuk mengkomunikasikan hasilnya dan konseling keluarga membuka status HIV masing-masing dan membantu mengatasi problema psikologis pasangan suami isteri yang pada akhirnya sama-sama terinfeksi. Pengalaman penangan pasangan hampir rata-rata suami yang terinfeksi HIV menularkan pula pada isteri dan anaknya. Namun pada beberapa kasus ditemukan suami terinfeksi, tidak menularkan pada isteri dan anak. Pada kasus ini akhirnya suami meninggal dunia. Sementara pada kasus yang lain isteri positif dan anak negatif. Hal ini setelah ditelusuri dikarenakan proses kelahiran yang dilakukan secara operasi cesar dan anak sangat sedikit mengkonsumsi air susu ibunya.
             

              Konseling keluarga dilakukan tidak sebatas pada pasangan tetapi juga kepada keluarga besar dari pasangan yang terkena infeksi HIV/AIDS tersebut. Sejauh ini keterbukaan status HIV hanya sebatas kepada pasangan dan keluarga besarnya. Dimana kenyataan menunjukkan respon yang beragam mulai dari penerimaan sampai memberikan dukungan sosial dan menolak, mengucilkan sampai memutuskan hubungan keluarga. Dalam berbagai kondisi yang muncul, konselor senantiasa berusaha membantu klien agar dapat diterima keluarga dan mendapatkan dukungan dari mereka. Mengingat pentingnya kedua hal tersebut bagi Odha agar dapat terus menjalankan hidupnya. Namun, tidak semua keluarga mampu menerima dan memiliki kesadaran demikian mengingat anggota keluarga yang terinfeksi HIV/AIDS merupakan aib yang mencoreng nama baik keluarga besar sehingga apapun argumen dan usaha konselor menjadi diabaikan.
           Ketika kondisi yang tidak diharapkan dari keluarga muncul, klien biasanya akan mendapatkan konseling lanjutan. Konseling ini akan dimanfaatkan konselor untuk membantu klien agar tidak terfokus pada penyakit dan sumber penularannya. Klien akan dibantu untuk menata hidupnya kembali dengan statusnya sekarang dan menanamkan bahwa penyakit tersebut bukan akhir dari segalanya. Konseling berkelanjutan juga diberikan pada klien yang mendapatkan masalah sepanjang melakukan proses pengobatan atau mengalami dinamika psikologis yang bermunculan setelah divonis terinfeksi HIV. Biasanya klien yang secara aktif berkomunikasi dengan konselor terkait berbagai perubahan dirinya misalnya efek pengobatan ARV, ketakutan akan kematian yang sering muncul karena penyakitnya dan juga kendala-kendala merawat anak mereka yang positif HIV.
           Sementara konseling menghadapi kematian dilakukan bagi klien yang ada dalam masa sakaratul maut. Konseling dilakukan untuk mengkondisikan pasien agar tetap tenang menjalani proses tersebut karena bagian dari kehendak Pencipta, disamping menguatkan keluarga yang ditinggalkan. Konseling ini menyangkut juga memberikan pemahaman kepada keluarga akan perlakuan yang khusus bagi jenazah penderita seperti harus segera dimakankan, jenazah akan dibungkus sedemikian rupa untuk menghindari virus yang masih berkembang yang bisa menularkan penyakit dan larangan bagi pelayat membuka jenazah. Berbagai perlakuan yang demikian biasanya akan menimbulkan berbagai pertanyaan para tetangga dan rekan yang berkesempatan datang pada proses pemakaman, tidak jarang juga vonis mereka akan jenazah yang terinfeksi HIV/AIDS pun muncul. Efek dari hal tersebut memunculkan respon negatif terhadap jenazah yang besar pengaruhnya bagi keluarga yang ditinggalkan seperti malu, ketakutan akan dikucilkan dan lain sebagainya. Dengan adanya konseling sebelumnya,keluarga akan lebih siap dan bijaksana menrespons reaksi yang muncul di masyarakat berkenaan dengan anggota keluarganya yang meninggal tersebut.

4.      Model Konseling (tehnik/metode)
Model layanan konseling HIV/AIDS yang dikembangkan di VCT Panti Wilasa adalah model layanan teintegrasi dengan layanan kesehatan dan model layanan jangkaun masyarakat. Model yang pertama merupakan layanan utama yang dikembangkan di rumah sakit ini. Layanan ini diawali dengan adanya konseling pra tes HIV/AIDS, konseling pasca tes, pemberian perawatan dan pelayanan medis yang dibutuhkan, dan konseling kepatuhan berobat. Ketersediaan tenaga VCT yang lengkap baik dokter, apoteker, laboran, dan konselor menjadikan klien HIV/AIDS akan mendapatkan perawatan dan pengobatan yang dibutuhkan. Klien yang positif HIV/AIDS akan mendapatkan pelayanan Care, Support and Treatment (CSR). Care dalam arti mendapatkan perawatan yang dibutuhkan layaknya sebagai pasien pada umumnya, tidak ada penyediaan bangsal khusus HIV/AIDS yang menimbulkan diskriminasi. Semua pasien diperlakukan sama sebagaimana penyakit biasanya. Support artinya pasien yang positif ataupun negatif akan mendapatkan pelayanan konseling yang akan membantu klien lebih memahami diri dan statusnya. Bagi yang berstatus negatif tentunya akan mendapatkan konseling sesuai yang dibutuhkan dan juga adanya konseling teman sebaya. Konseling kelompok ini difasilitasi VCT Panti Wilasa setiap dua bulan sekali dalam rangka menumbuhkan dukungan sosial, yang diikuti klien dan keluarganya. Dan Treatment artinya klien akan diberikan pengobatan ARV (antiretroviral) sesuai dengan tingkat penyakit yang diderita. ART14 dilakukan seumur hidup klien karena virus HIV tidak akan hilang dari tubuh penderita, hanya bisa diminimalisir perkembangannya. Sehingga treatment ARV diimbangi pula dengan konseling kepatuhan berobat agar pasien memiliki komitmen mengkonsumsi obat secara terus menerus demi kesehatan yang diharapkan. Beberapa pengalaman pasien akan mengalami kejenuhan dengan ARV yang diminum setiap hari ataupun menghentikan konsumsi obat ARV setelah merasakan dirinya baik. Pada situasi ini konseling kepatuhan berobat sangat dibutuhkan karena ketidakteraturan meminum obat akan berakibat vatal pada perkembangan virus dan semakin sulit melakukan terapi atas penyakitnya. Jumlah pasien yang demikian tidak sedikit, meskipun konseling kepatuhan berobat telah dilakukan pasien tetap tidak mau melakukan pengobatan secara teratur. Namun jika keadaan sudah demikian, maka tugas dan tanggung jawab konselor sudah dilakukan dengan maksimal, resiko penyakit ditanggung pasien/klien sendiri.
Selain model layanan di atas, model layanan lainnya yang digunakan adalah model Layanan VCT melalui jangkauan masyarakat. Layanan ini menggunakan VCT Keliling menghampiri sasaran yang memiliki tingkat penularan HIV tinggi, seperti di komunitas PSK atau tempat-tempat hiburan lainnya. Menurut pengakuan Koordinator VCT, model ini tidak efektif karena penyakit HIV/AIDS masih dianggap aib bagi siapapun sehingga membuat orang enggan melakukan tes di VCT keliling. Mereka lebih memilih langsung datang ke ruma sakit, karena kerahasiaan relatif sangat terjaga.
Metode konseling yang dilakukan lebih banyak pada penggunaan metode langsung baik individual maupun kelompok. Pada semua jenis konseling asas kerahasian sangat dijunjung tinggi, demikian pula pada konseling HIV/AIDS. Sehingga konseling secara individual menjadi hal utama yang dilakukan seperti dalam konseling pra dan post tes. Sementara metode kelompok dapat dilihat dalam konseling keluarga dan kelompok teman sebaya. Konseling keluarga biasa melibatkan pasangan klien atau keluarga besar klien. Konseling keluarga ini dilakukan dalam rangka membuka status klien yang positif HIV/AIDS agar mendapat dukungan sosial dari keluarganya.
Sedangkan pada kelompok teman sebaya (KTS) merupakan forum yang difasilitasi oleh konselor VCT untuk odha dan keluarganya. Forum ini merupakan pertemuan yang disetting untuk memberikan dukungan antara odha dan keluarganya. Dalam pertemuan ini, dimanfaatkan pula untuk konseling kelompok. Dimana setiap odha dapat saling berbagi pengalaman hidup dengan odha lainnya. Hal seperti ini sangat dibutuhkan bagi para odha agar mereka bisa saling belajar untuk mengatasi berbagai problem yang muncul selama menjalani hidup dengan penyakit yang dideritanya sekarang. KST ini juga dimanfaatkan untuk mengangkat berbagai isu tentang HIV/AIDS sehingga odha dapat memahami betul setiap perjalanan penyakitnya sehingga bisa melakukan strategy copyng yang tepat.
Selain metode langsung sebagaimana di atas, konseling dilakukan juga dengan metode tidak langsung atau via telepon. Menurut Mbak Pur koordiantor VCT, sebagai konselor hampir menyediakan waktu 24 jam karena selain klien bertatap muka ketika bertemu di rumah sakit, tidak sedikit mereka yang memanfaatkan telepon untuk melakukan bimbingan ataupun konseling. Hal semacam ini biasanya dilakukan pada masa-masa awal pasien terinfeksi HIV/AIDS. Berbagai kondisi seperti ketakutan yang berlebihan, perubahan pasca terapi ARV dan lain sebagainya membuat pasien membutuhkan tempat melakukan curahan hati. Apalagi bagi mereka yang belum membuka statusnya dengan keluarga, konselor adalah orang satu-satunya yang bisa diajak komunikasi perihal sakit dan segala problem yang dihadapinya. Pendampingan seperti ini memang dilakukan dalam rangka membantu klien melakukan adaptasi terhadap berbagai perubahan yang dihadapi. Toleransi waktu yang diberikan adalah dua bulan, selepas itu klien akan dilepas demi kemandirian. Toleransi ini diharapkan akan membuat klien tidak menggantungkan diri pada konselor, mereka harus berpikir mandiri dan memulai untuk melakukan adaptasi sampai akhirnya bisa menerima dirinya yang terinfeksi HIV/AIDS.

5.      Evaluasi
Evaluasi terhadap pelayanan menjadi hal yang penting yang diperhatikan oleh pengelola VCT RS Panti Wilasa. Evaluasi pelayanan dilakukan melalui supervisi oleh konselor yang tergabung dalam Perhimpunan Konselor VCT HIV/AIDS Indonesia (PKVHI). Idealnya supervisi semacam ini dilaksanakan secara periodik. Namun karena berbaagi keterbatasan tidak bisa dilakukan. Solusi dari hal ini dilakukan evaluasi oleh sesama konselor pada VCT yang sama. Artinya empat konselor yang ada di klinik VCT Panti Wilasa mempunyai tugas untuk melakukan penilaian dan kontrol atas kinerja layanan konselor lainnya. Evaluasi internal ini dilakukan melalui rapat bulanan para pengelola VCT.
Sementara evaluasi eksternal yang melibatkan klien dilakukan dengan meminta feed back langsung kepada setiap klien yang datang. Mekanismenya adalah konselor bertanya secara langsung kepada klien tentang responnya terhadap pelayanan yang diberikan konselor. Meskipun dirasa kurang maksimal, namun evaluasi ini mampu memberikan masukan yang berharga bagi peningkatan kualitas pelayanan VCT ke depan.

























BAB III
PENUTUP
3.1       Kesimpulan
Berdasarkan kajian teoritis dan hasil penelitian di lapangan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.      Respons spiritual penderita HIV AIDS di klinik VCT RS Panti Wiloso Citarum Semarang menunjukan respons yang beragam baik positif maupun negatif dilihat dari tujuh aspek berikut keyakinan dan makna hidup, autoritas atau pembimbing, pengalaman dan emosi, persahabatan dan komunitas, ritual dan ibadah, dorongan dan pertumbuhan, serta panggilan dan konsekuensi. Hal tersebut karena respons spiritual bersifat sangat individual yang dipengaruhi oleh kultur, perkembangan, pengalaman hidup, dan ide-ide mereka sendiri tentang hidup.
2.      Pelaksanaan konseling bagi penderita HIV AIDS di klinik VCT RS Panti Wiloso Citarum Semarang dapat dilihat dari aspek berikut :
a.       Konselor terdiri dari 4 orang yang telah mendapatkan pelatihan konselor HIV/AIDS sesuai standar WHO yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan.
b.      Klien yang ditangani ada 69 orang. Sebagian besar adalah pelaku seks bebas, dan yang lainnya adalah pekerja sek komersial, waria, homosek, IUD , ibu rumah tangga dan anak-anak.
c.       Jenis pelayanan antara lain konseling pra-pasca-tes, konseling keluarga, konseling berkelanjutan, konseling kepatuhan berobat dan konseling menghadapi kematian
d.      Model layanan VCT ada dua yaitu layanan terintegrasi dengan layanan kesehatan dan layanan jangkauan masyarakat. Sedangkan metode konseling yang digunakan adalah metode langsung seperti konseling individual, dan konseling kelompok.
e.       Sistem evaluasi yang digunakan menggunakan supervisi antar konselor dan evaluasi eksternal dengan tehnik wawancara langsung.
3.      Dimensi spiritual dalam praktik konseling bagi penderita HIV/AIDS ditekankan pada aspek vertikal (hubungan manusia dengan Tuhannya) dan aspek horizontal (hubungan manusia dengan sesamanya).

3.2       Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis terhadap temuan-temuan, maka penelitian ini memberikan saran kepada :
1.      Rumah Sakit Penyelenggara VCT
a.       Meningkatkan pelayanan konseling HIV/AIDS berbasis spiritual kepada pasien dan keluarganya.
b.      Meningkatkan konseling pencegahan HIV/AIDS dan penyuluhan kepada masyarakat luas agar menepis mitos, diskriminatif dan stigmatisasi penderita HIV/AIDS yang sampai sekarang masih mengakar kuat di masyarakat.
c.       Mengembangkan model layanan VCT jangkauan masyarakat dengan sasaran remaja di tiap sekolah, kampus dan pondok pesantren. Mengingat minimnya pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS dan meningkatnya jumlah usia remaja yang terinfeksi penyakit ini.
2.      Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam Fakultas Dakwah membangun partisipasi aktif dengan memberikan bimbingan dan penyuluhan tentang penanggulangan HIV/AIDS melalui kerjasama dengan Komisi Pemberantasan HIV/ AIDS Jawa Tengah, Rumah Sakit dan Lembaga Swadaya Masyarakat yang konsen terhadap penanggulangan HIV/AIDS.
3.      Peneliti selanjutnya Tema HIV/AIDS merupakan tema yang menarik untuk dikaji lebih lanjut tidak sebatas pada apa yang telah dilakukan dalam penelitian ini. Berbagai hal bisa dikaji lebih lanjut seperti masalah mitos, diskriminatis dan stigma HIV/AIDS di masyarakat, problematika bio-psiko-sosio-spiritual/religius penderita, dan dukungan sosial bagi odha.


Komentar