Spiritual pada ODHA
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS)
merupakan tahap akhir dari infeksi HIV. Seseorang yang terinfeksi HIV di
diagnosis AIDS ketika dia memiliki satu atau lebih infeksi oportunistik seperti
radang paru-paru atau TBC dan memiliki jumlah sel T CD4 + (kurang dari 200 sel
per millimeter kubik darah) (National
institute of allergi and Infectious Disease, 2009). Keadaan ini akan
menyebabkan klien HIV/AIDS sangat rentan terhadap masalah-masalah kesehatannya.
Mudah terserang infeksi karena mengalami penurunan sistem imun. HIV/AIDS bukan
hanya masalah kesehatan, tetapi juga masalah pembangunan. HIV/AIDS menyebar
dengan cepat terutama untuk orang muda dan orang dewasa pada usia kerja, HIV/AIDS mempengaruhi
perekonomian, masyarakat, keluarga dan sekolah di suatu negara, melemahkan
negara secara keseluruhan. Ketika 8% atau lebih dari populasi terinfeksi HIV,
pertumbuhan ekonomi melambat. Hal ini karena tenaga kerja semakin berkurang dan
pemerintah yang sudah kewalahan karena ekonomi melemah dan sistem perawatan
kesehatan meningkat. HIV/AIDS bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga
masalah pembangunan. HIV/AIDS menyebar dengan cepat terutama untuk orang muda
dan orang dewasa pada usia kerja,
HIV/AIDS mempengaruhi perekonomian, masyarakat, keluarga dan sekolah di suatu
negara, melemahkan negara secara keseluruhan. Ketika 8% atau lebih dari
populasi terinfeksi HIV, pertumbuhan ekonomi melambat. Hal ini karena tenaga
kerja semakin berkurang dan pemerintah yang sudah kewalahan karena ekonomi
melemah dan sistem perawatan kesehatan meningkat (World bank group, 2009).
Negara-negara miskin sangat rentan terhadap
HIV/AIDS karena kurang memiliki sumber daya yang baik untuk mengobati dan
membantu klien HIV. Penyebabnya adalah sistem perawatan kesehatan yang sudah
terbebani atau tidak berkembang dengan baik, mahalnya obat HIV/AIDS dan sering
tidak tersedia, hal ini pula yang menyebabkan fenomena klien HIV/AIDS jumlahnya
meningkat dari tahun ke tahun.(World bank
group, 2010). Jumlah total klien
HIV/AIDS di dunia pada tahun 2009 cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke
tahun, meningkat sebesar 20% dari tahun 2008 dan mengalami peningkatan tiga
kali lebih besar dibanding tahun 1990. Jumlah terbanyak terdapat di Negara Sub
Sahara-Afrika yaitu 22.4 juta orang. Data bulan November sampai dengan bulan
Desember tahun 2009 tercatat klien dengan HIV/AIDS sebanyak 33.4 juta, orang
dewasa yaitu 31.3 juta, wanita 15.7 juta, anak-anak dibawah usia 15 tahun 15.7
juta. Klien baru yang terinfeksi HIV/AIDS rata-rata 2.7 juta, kematian akibat
AIDS totalnya 2 juta (United Nation on
AIDS, 2010). Di Asia Timur dan
Asia Tenggara jumlah orang dengan HIV/AIDS sebanyak 3.8 juta orang dengan peningkatan
yang lebih stabil sejak tahun 2000. Setengah dari klien HIV/AIDS terbesar di
Asia berada di India. Sebagian besar Negara Di Asia mempunyai prevalensi
penduduk dewasa yang terkena HIV/AIDS kurang dari satu persen kecuali Thailand.
Epidemi penyebaran HIV/AIDS telah meletus di Cina, Indonesia, Papua Nugini,
Vietnam, beberapa Negara di Asia Tengah dan Baltik (United Nation on AIDS, 2010).
Jumlah klien dengan HIV/AIDS di Indonesia sebesar 19.973 jiwa dengan laporan
kasus terbaru tri wulan Oktober sampai dengan Desember 2009 sebesar 1.531 kasus
baru. Penularan terbanyak melalui heteroseksual, di urutan kedua biseksual
selanjutnya adalah karena IDU (injecting
drug user). Data orang dengan HIV/AIDS di Propinsi DKI Jakarta total 2828
kasus. Klien dengan HIV/AIDS karena sebanyak 2002 kasus, dengan jumlah kematian
karena AIDS sebanyak 426 jiwa (Ditjen
PPM & PL Depkes,2009).
Strategi penanggulangan HIV/AIDS di
Indonesia terus di tingkatkan mengikuti perubahan, tantangan dan masalah
HIV/AIDS yang semakin besar dan rumit. Tujuan utamanya yaitu mencegah dan
mengurangi penularan HIV, meningkatkan kualitas hidup klien dengan HIV/AIDS
serta mengurangi dampak sosial dan ekonomi pada individu, keluarga dan
masyarakat yang disebabkan oleh stigma yang melekat pada klien HIV/AIDS. Stigma negatif dan diskriminatif yang beredar
di masyarakat tentang klien HIV sebagai penyakit yang memalukan dan kotor akan
menghambat proses penanganan penyakit HIV dan penyebaran epidemik HIV/AIDS. Bentuk
stigma dan diskriminasi terhadap penyakit HIV/AIDS dalam bentuk lain adalah; 1)
HIV merupakan bentuk hukuman dari Tuhan, klien dengan HIV/AIDS tidak boleh
tinggal dengan masyarakat, 2) klien dengan HIV/AIDS tidak dibolehkan untuk
pergi ke sekolah dan bekerja karena dikhawatirkan menularkan kepada yang lain,
3) Hanya orang-orang seperti pengguna narkoba suntik, pekerja seks, orang
miskin serta buruh saja yang dapat tertular HIV, 4) Perempuan seringkali disalahkan, 5) Petugas kesehatan
membedakan dalam memberikan pelayanan kesehatan (Rostina, 2009).
Spiritualitas merupakan bagian dari kualitas
hidup berada dalam domain kapasitas diri
atau being yang terdiri dari
nilai-nilai personal, standar personal
dan kepercayaan (Univesity of Toronto, 2010).
Spiritualitas memegang peranan penting dalam pengobatan HIV/AIDS. Perawat
memiliki pengetahuan bahwa klien memiliki kebutuhan spiritual, tetapi pada
banyak kasus tidak semua perawat memberikan pelayanan untuk memenuhi aspek
spiritual klien. Hal ini disebabkan perawat tidak disiapkan untuk menghadapi
masalah spiritual klien dan perawat mengganggap itu bagian dari psikososial dan
merupakan tugas dari rohaniawan. Perawat berada pada posisi terbaik untuk
memberikan asuhan keperawatan spiritual pada klien hanya dengan menjadi
pendengar yang baik, membantu klien mengungkapkan keyakinan mereka dan
mendampingi klien selama perjalanan penyakitnya serta menyediakan perawatan
rohani untuk klien HIV/AIDS (Wensley, 2008).
1.2 RUMUSAN MASALAH
Penyakit HIV/AIDS adalah penyakit yang
sangat berbahaya dan sering memberikan pengalaman hidup yang mendalam secara
emosional, sosial, perilaku, spiritual dan konsekuensi medis. Penyesuaian harus
dibuat dalam hubungan dengan orang lain, kehidupan keluarga, seksual dan
hubungan sosial, pekerjaan dan pendidikan, keyakinan spiritual, hukum dan
hak-hak sipil yang menakutkan bagi klien nya dan keluarganya serta orang-orang di sekitarnya. Hal ini disebabkan oleh stigma negatif yang
beredar di masyarakat. Penyakit ini tergolong dalam penyakit kronik dan sampai
saat ini belum ditemukan obat yang dapat mengobatinya.
Spiritualitas pada klien dengan
HIV/AIDS sangat penting karena memberikan efek secara langsung yaitu sebagai
memberikan perasaan nyaman, tenang dan sebagai koping positif untuk menghadapi
penyakitnya dan memberikan efek secara tidak langsung untuk meningkatkan status
kesehatan dalam hal ini meningkatkan kadar CD 4 atau memperlambat menurunnya
kadarnya CD4 dan menurunkan jumlah viral load pada klien HIV/AIDS.
Asuhan keperawatan yang diberikan oleh
perawat belum mencakup aspek spiritual, saat ini kebanyakan perawat lebih
berfokus untuk memenuhi kebutuhan biologis klien. Padahal disisi lain aspek
spiritualitas penting bagi klien untuk menyadari siapa dirinya, mendasari
perilaku, dan respon klien untuk memberikan makna terhadap kehidupannya.
1.3 TUJUAN
1.3.1 Tujuan
Umum
Untuk
memperoleh pemahaman tentang Pengkajian spiritualitas pada ODHA
1.3.2 Tujuan Khusus
a.
Konsep dasar HIV/ AIDS
b.
Konsep spiritual ODHA dalam Asuhan Keperawatan
c.
Harapan ODHA untuk hidup yang lebih
baik di hari kedepan
d.
Hubungan ODHA
Dengan Orang Lain
Dan, Lingkungan
Sekitarnya
e.
Kebutuhan Spiritual ODHA yang tidak terpenuhi
f.
Terapi spiritualitas ODHA
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
AIDS adalah singkatan dari
"Acquired Immune Deficiency
Syndrome". Acquired berarti ditularkan dari orang ke orang; kekebalan
tubuh adalah sistem pertahanan; kekurangan
berarti kurang atau
tidak bekerja sesuai dengan
fungsinya dan sindrom adalah kelompok atau kumpulan tanda dan gejala. AIDS
adalah tahap lanjut infeksi HIV (UNICEF, 2009)
2.2 Penyebab
Ada dua jenis HIV: yaitu HIV-1 dan
HIV-2. HIV-1 dan HIV-2 yang ditransmisikan dengan cara yang sama dan terkait
dengan infeksi oportunistik yang serupa, meskipun mereka berbeda dalam
efisiensi transmisi dan tingkat perkembangan penyakit. HIV-1 merupakan penyebab
bagi mayoritas infeksi di dunia, ada lebih dari 10 subtipe genetis. HIV-2,
ditemukan terutama di Afrika Barat, tampaknya kurang mudah menular dan
berkembang lebih lambat untuk AIDS daripada HIV-1. Seseorang bisa terinfeksi
HIV kedua jenis secara bersamaan (UNICEF, 2009).
Cara penularan HIV/AIDS Menurut Black
& Hawks, (2009) melalui:
Kegiatan seksual
Penularan ini terjadi
melalui hubungan seksual yang tidak aman antara orang dengan HIV/AIDS dengan
orang lain yang sehat. Terjadi pada kelompok heteroseksual, homoseksual,
pasangan seks yang berganti- ganti, adanya luka pada daerah genitalia akan
meningkatkan risiko peningkatan tertular virus HIV.
2.3 Patofisiologi
Menurut
Silbernagl & Lang (2007) perjalanan dari masuknya virus HIV sampai awal
terjadinya gejala Aids adalah sebagai berikut: Virus HIV tipe 1 dan tipe 2
dikode oleh dua molekul RNA (ssRNA) yang hampir sama. Pada selubung virion
terbentuk protein gp120, yang sekaligus melekat pada CD4 dan kemoreseptor
kemokin (=CCR5 pada awal infeksi; =CXCR4 pada tahap akhir) di membrane sel
penjamu sehingga menyebabkan penyatuan membran dan endositosis virion.
Seseorang dengan defek CCR5 akan terlindung dari infeksi HIV. Selain sel CD8,
sel CD4-TH terutam ikut terkena. Pada sel CD4- TH , RNA melalui endogen reverse transcriptase virion
ditranskripsi menjadi cDNA, yang kemudian bergabung menjadi untaian ganda DNA
(provirus) kedalam genom sel penjamu (stadium laten).
2.4 Konsep Spiritual ODHA dalam asuhan keperawatan
Konsep biopsiko sosio spiritual banyak dibahas oleh
para tokoh-tokoh keperawatan. Salah satunya adalah Henderson mengatakan fungsi
khas perawat yaitu melayani individu baik sakit maupun sehat dengan berbagai aktifitas
yang memberikan sumbangan terhadap kesehatan dan upaya penyembuhan (maupun
upaya mengantar kematian yang tenang) sehingga klien dapat beraktifitas mandiri
dengan menggunakan kekuatan, kemauan dan pengetahuan yang dimilikinya. Jadi,
tugas utama perawat yaitu membantu klien menjadi lebih mandiri secepatnya.
Henderson memandang manusia secara holistik atau keseluruhan. Terdiri dari
unsur fisik, biologi, sosiologi dan spiritual.
Faktor-faktor yang
mempengaruhi kesehatan spiritual menurut Craven & Hirnle, (2007) adalah:
a.
Kebudayaan, termasuk didalamnya adalah tingkah laku,
kepercayaan dan nilai-nilai yang bersumber dari latar belakang sosial budaya.
b.
Jenis kelamin: Spiritual biasanya bergantung pada kelompok
sosial dan nilai- nilai agama dan transgender. Misalnya yang menjadi pemimpin
kelompok spiritual adalah laki-laki, dsb.
Spiritual adalah segala sesuatu mengenai kehidupan,
bagian terdalam dari individu, memberikan harapan, meningkatkan keterkaitan dan
hubungan dan meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik Lubkin & Larsen
(2006). Spiritual pada klien HIV/AIDS adalah poin utama pada klien HIV/AIDS
yang merupakan jalan untuk menemukan arti dan bertahan hidup, dan menemukan
tujuan untuk menghadapi tantangan dari penyakit HIV/penyakit kronis yang ditandai
oleh banyak kesalahpahaman, konflik dan perasaan bersalah.
Spiritualitas dapat dipandang sebagai cara
lain untuk mengatasi penyakit HIV/AIDS yang digunakan sebagai koping positif. (Ironson & Hayward, 2008).
2.5 Harapan ODHA untuk hidup yang lebih baik di hari kedepan
Harapan partisipan kedepan adalah mencari pekerjaan
dan memulai hidup yang baru dengan membangun hubungan yang baik dengan orang
lain dan membangun kembali keluarga, masih ingin terus berkarya dan
memanfaatkan kesempatan hidup yang diberikan oleh Tuhan, memperbaiki diri dalam
kegiatan keagamaan dan memulihkan fisik dulu. Sebagian besar partisipan
mengungkapkan harapannya adalah mencari pekerjaan yang baru dan tetap melakukan
aktivitas seperti biasa.
Chicoki,
(2007) mengatakan agama dan spiritualitas membantu ODHA meninjau kembali
kehidupan mereka, menafsirkan apa yang mereka temukan, dan menerapkan apa yang
telah mereka pelajari untuk kehidupan baru dan membantu seseorang menemukan
makna baru hidup setelah diagnosis HIV.
Beberapa partisipan mengungkapkan bahwa menganggap
penyakit HIV ini sebagai berkah, ujian dari Tuhan dan pada dasarnya mereka
sudah Ikhlas hanya belum merasa yakin, sehingga mereka berharap tetap diberi
kekuatan hati untuk menjalaninya. Termasuk didalamnya adalah kesiapan
partisipan untuk menghadapi kematian, sebagian besar mengungkapkan ketakutannya
akan kematian apalagi ada seorang partisipan yang merasa kondisinya masih labil
karena baru menjalani operasi amputasi, dan pengalaman partisipan yang lain
karena merasakan sesak nafas yang hebat sehingga yang terbayang dimatanya
adalah kematian. Tetapi sebagian partisipan mengungkapkan bahwa mereka pasrah
saja akan kehendak dari Sang Pencipta karena semua itu merupakan misteri.
2.6 Hubungan ODHA
Dengan Orang Lain
Dan, Lingkungan
Sekitarnya
Kebutuhan
spiritual pada klien HIV/Aids meliputi kebutuhan untuk menguatkan hubungan
dengan
diri
sendiri,
orang
lain,
Tuhan
dan
alam.
Dukungan dan support system yang tersedia di lingkungan sekitar partisipan akan
membantu partisipan menghadapi proses penyakitnya . Sebagian besar partisipan
mengungkapkan mereka mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekatnya dalam
hal ini keluarga, pasangan hidup dan teman-teman terdekat. Dukungan yang sangat
berarti diperoleh dari keluarga dalam hal ini adalah pasangan hidup yaitu istri
dan orangtua.
2.7 Kebutuhan Spiritual ODHA yang tidak terpenuhi
Sebagian besar partisipan mengungkapkan perawat
sudah melakukan kegiatannya secara professional dan teliti tetapi kegiatan yang
dilakukan hanyalah melakukan kegiatan rutin dan tidak agresif tetapi bagi
partisipan itu sudah cukup karena menurut mereka perawat mungkin tidak akan
punya waktu untuk berlama-lama dengan partisipan. Bahkan ada salah seorang
partisipan yang mengatakan bahwa perawat cukup melakukan kegiatan rutinnya saja
untuk pengobatan. Wensley,(2008),
mengatakan perawat berada pada posisi terbaik untuk memberikan asuhan
keperawatan spiritual pada klien hanya dengan menjadi pendengar yang baik,
membantu klien mengungkapkan keyakinan mereka dan mendampingi klien selama
perjalanan penyakitnya serta menyediakan perawatan rohani untuk klien HIV/AIDS
akan tetapi pada kenyataannya perawat kurang mempunyai waktu untuk mendengarkan
keluhan partisipan. Selain itu perawat kurang agresif karena hanya melakukan
perawatan yang standar saja sesuai prosedur. Akan tetapi secara professional
mereka mengakui bahwa perawat melakukan tugasnya secara professional dan
teliti. Hal ini tidak sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Henderson
memandang manusia secara holistik atau keseluruhan. Terdiri dari unsur fisik,
biologi, sosiologi dan spiritual.
2.8
Terapi spiritualitas ODHA
Chicoki (2007) mengatakan spiritualitas pada
klien HIV/AIDS adalah jalan untuk untuk mengobati masalah emosional melalui
agama dan spiritual. Dengan cara:
a.
Memberikan makna baru dalam hidup:
Agama dan spiritualitas membantu klien dengan HIV/Aids meninjau kembali
kehidupan mereka, menafsirkan apa yang mereka temukan, dan menerapkan apa yang
telah mereka pelajari untuk kehidupan baru mereka dengan HIV. Secara sederhana,
spiritualitas dan agama membantu seseorang menemukan "makna baru
hidup" setelah diagnosis HIV.
b.
Mempunyai tujuan baru: diagnosis
HIV sering menjadi stimulus yang diperlukan bagi seseorang untuk menggali
kembali kehidupan rohani dari kehidupan mereka.
c.
Kondisi sakit membuat klien dengan
HIV/Aids menjadi pribadi yang baru. Secara sadar atau tidak sadar, klien dengan
HIV/Aids menggunakan penyakit mereka sebagai cara untuk lebih memahami
spiritualitas mereka dan diri mereka sendiri. Fungsi spiritualitas yaitu: Menerima
perubahan yang merupakan hasil dari penyakitnya dan berubah menjadi orang yang
berbeda dengan kepribadian yang baru, mengajarkan akan arti pentingnya kehidupan
mereka.
BAB 3
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Perubahan spiritual yang dirasakan oleh klien setelah di
diagnosis HIV/Aids adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. Nilai-nilai spiritual dan tujuan hidup klien pasca
diagnosis HIV/Aids adalah menghargai hidup pasca diagnosis HIV dengan lebih
menghargai makna hidup sebenarnya, menikmati hidup dan pasrah menerima keadaan.
Harapan terhadap kehidupan yang lebih baik dihari depan
setelah keluar dari rumah sakit adalah mencari pekerjaan dan memulai hidup yang
baru, masih ingin terus berkarya, memanfaatkan kesempatan hidup yang telah
diberikan Tuhan, memperbaiki diri kembali pada kegiatan keagamaan dan
memulihkan fisik.
B. Saran
Dalam memberikan asuhan
keperawatan perawat bersifat holistik meliputi aspek Spiritual, menyediakan
format pengkajian spiritual, membuat program agar perawat dapat melakukan
asuhan keperawatan spiritual kepada klien yang dirawat serta rohaniawan sekali
sehari mengunjungi klien yang dirawat di RS.
Serta memfasilitasi klien untuk melaksanakan kegiatan keagamaan selama dirawat
di rumah sakit, dan melakukan pengkajian aspek spiritual klien dan melaksanakan
intervensi spiritual.
Komentar
Posting Komentar